Hama Thrips

Hama Thrips adalah salah satu nama hama yang banyak menyerang tanaman budidaya, terutama tanaman jenis sayur sayuran. Kerugian yang dialami oleh petani apabila lahannya terserang hama tersebut cukup besar. Salah satu akibat dari serangan hama ini pada tanaman lombok adalah daun menjadi keriting dan berguguran. Hal ini terjadi pada tanaman yang baru berusia dua bulan atau tanaman yang menjelang pembuahan. Setelah daun rontok, maka tanaman menjadi layu dan mati. Hama ini biasanya menyerang pada musim hujan yang sudah mulai berkurang.

Ciri Hama Thrips

Ciri hama thrips ini termasuk ke dalam Ordo Thysanoptera, yang berasal dari kata thysano yang berarti rumbai, dan ptera berarti sayap. Adapun famili atau keluarga dari hama ini adalah Thripidae. Ciri sayap dari hama ini adalah berumbai dengan rambut yang panjang dan jumlahnya ada empat. Pada umumnya tubuh berwarna kekuningan, kecoklatan atau coklat kehitaman. Ukuran tubuhnya 1 – 1,4 mm, berantena 6-9 ruas, mulut memarut dan menghisap. Nimphanya biasanya berwarna kuning, orange atau merah.

Perilaku Hama Thrips

Hama thrips dewasa atau bentuk juvenil (nimpha) dapat melompat, hal ini dikarenakan tubuhnya yang ringan, sehingga dapat diterbangkan angin sampai ke tempat yang jauh. Hama ini dalam bentuk nimpha muda sangat aktif dan masa berkepompong di antaranya terjadi di tanah dan tanaman. Selama musim hujan, populasinya menurun. Adapun telur yang dihaslkan oleh induk dari hama ini diletakkan pada jaringan yang relatif muda atau lunak ( daun, batang dan buah muda).

Hama jenis ini baik dalam bentuk muda (nimpha) maupun dewasa dapat merusak epidermis pucuk daun, daun muda, bunga maupun buah. Hama ini termasuk hama yang penting pada tanaman budidaya seperti kentang, lombok, kacang kacangan, tembakau, dan juga tanaman baang. Disamping itu hama thrips ini juga berfungsi sebagai vektor dari penyakit tanaman.

Faktor Yang Mempengaruhi Serangan

Menurut Garet jones (1987) dalam bukunya Plant pathology, principles and practise ia menyebutkan bahwa penyebab penyakit tanaman ada dua yaitu dari jenis organisme yang disebut patogen dan juga non patogen. Sedang tanaman dikatakan sakit apabila suatu tanaman terganggu proses fisiologisnya.

Hama atau pest merupakan salah satu organisme yang berpotensi untuk dapat menyebabkan penyakit pada tanaman, yaitu berupa kerusakan yang berakibat pada terganggunya fungsi fisiologis dari tanaman yang diserang. Akan tetapi hama tidak termasuk patogen.

Suatu penyakit dapat terjadi apabila ada tiga faktor yang saling berinteraksi. Ketiga faktor tersebut adalah patogen atau organisme yang berpotensi menimbulkan penyakit, lingkunfan dan inang. Ketiga faktor tersebut biasa diistilahkan dengan disease triangle atau segitiga penyakit. Apabila salah satu faktor tidak adak atau tidak saling mendukung satu sama lain, maka kemungkinan penyakit tersebut tidak akan terjadi.

Sebagai contoh apabila suatu lahan sudah terserang suatu penyakit, maka dapat dipastikan ketiga faktor tersenit ada di tempat tersebut dan satu sama lain saling mendukung. Faktor pertama yaitu patogen tentunya mempunyai kemampuan menimbulkan serangan penyakit yang tinggi. Tanpa potensi ini, kecil kemungkinan akan timbul penyakit. Kedua, adanya inang yang berada dalam kondisi peka atau rentan dari serangan penyakit dan ketiga yaitu adanya lingkungan yang sangat mendukung untuk pertumbuhan dan perkembangan organisme penyebab penyakit selanjutnya.

Demikian pula kasusnya apabila suatu lahan terserang hama thrips. Tentunya di lahan tersebut telah ada hama tersebut, baik dalam bentuk telur, larva , pupa atau bentuk dewasanya. Kemudian ada tanaman yang memang menjadi inang dari hama thrips ini dan yang faktor terakhir yaitu kondisi lingkungan atau cuaca mendukung keduanya. Maka dapat dipastikan serangan hama trips ini akan terjadi.

Tindakan Petani di Lapangan

Cara menyikapi kasus kasus serangan hama termasuk hama thrips tentunya tidak mudah. Hal ini perlu adanya kerjasama yang baik antar instansi terkait dan petani. Bagi petani perhatian tidak hanya pada pengelolaan tanaman dan tanah saja, akan tetapi juga harus memperhatikan cara pengendalian serangan yang baik dan benar, apabila lahan terserang hama tersebut.

Di dalam pengendalian serangan hama sering kali ditemui di lapangan, petani langsung menyemprot lahan dengan zat kimia baik insektisida maupun fungisida ataupun yang lainnya. Pengendalian dengan cara ini seharisnya dilakukan apabila pengendalian yang lain sudah tidak membawa hasil atau dilakukan apabila sudah mengetahui jenis penyebab serangan. Karena seringkali belum mengetahui jenis penyebabnya, petani sudah melakukan penyemprotan. Hal ini tentunya berbahaya bagi lingkungan maupun bagi penggunanya sendiri.

Dalam pengendalian hama di lapangan perlu diperhatikan tiga faktor penyebab timbulnya serangan hama tersebut yaitu patogen (dalam hal ini hama thrips), inang dan lingkungan. Seperti telah diungkap di atas bahwa apabila salah satu faktor tidak ada atau kurang mendukung faktor yang lain, maka serangan hama tidak akan terjadi.

Apabila dicermati yang menjadi faktor penyebab utama pada kasus kasus yang terjadi di berbagai lahan, kemungkinan adalah masih terdapatnya hama di lapangan, mungkin bisa dalam bentuk telur di dalam tanah, ulat, kepompong atau bentuk dewasa, sehingga apabila lingkungan mendukung dan inang ada, maka dapat dipasukan serangan hama akan terjadi lagi.

Pengendalian Hama Thrips

Sebagai upaya pengendalian serangan hama thrips. anda perlu memperhatikan beberapa hal berikut ini

  1. Jangan menanam tanaman pengganti dengan tanaman yang masih menjadi inang dari hama tersebut. Misal jangan menanam tanaman baang sebagai pengganti tanaman cabai. Karena tanaman bawang masih merupakan salah satu inang dari hama ini.
  2. Apabila di satu desa sudah terserang hama thrips ini, seharusnya di tetangga desa yang menanam tenaman yang sama dengan tanaman yang terserang tersebut, segera mencegah dengan cara yaitu memanennya (apabila hasil tanaman sudah cukup tua) atau kalau masih relatif muda selalu mewaspadainya. Kemungkinan besar akan terserang hama tersebut, sebab hama ini mudah untuk diterbangkan oleh angin ke tempat lain.
  3. Untuk memulai masa tanaman, untuk menghindari serangan tersebut harus melihat musim. Untuk hama thrips ini pada musim hujan populasinya menurun, sehingga kemungkinan terjadinya serangan hama ini pada tanaman cabai kecil.
  4. Penggunaan bibit yang unggul dan tahan hama dapat meminimalisasi serangan hama ini. Beberapa jenis cabe rawit unggul memiliki ketahanan secara alami terhadap serangan hama ini.
  5. Seharusnya juga dilakukan rotasi tanaman, sehingga memperkecil kemungkinan berkembangnya hama ini.
  6. Apabila serangan belum begitu banyak, pencegahannya dapat dengan jalan memotong bagian tanaman yang terserang atau mencabutnya, kemudian memusnahkan dengan jalan dibakar.
  7. Apabila serangan sudah meluas, sebaiknya mencabut seluruh tanaman dan membakarnya, yang kemudian menggantinya dengan tanaman lain yang bukan inangnya.
  8. Penyemprotan dengan insektisida seharisnya dilakukan apabila upaya upaya lain sudah tidah membuahkan hasil. Itupun harus dengan insektisida yang sesuai baik cara penggunaan maupun dosisnya.

Siklus Hidup dan Morfologi Hama Thrips

Menurut buku Pest Control in Tropical Onions dan beberapa pustaka yang lain, hama perusak tanaman bawang yang terbesar disebabkan oleh jenis Lala, dan jenis Delia sp serta thrips yaitu sebangsa lalat dengan sayap lebih sempit. Untuk jenis thrips yang menjadi hama bawang tidak saja berasal dari satu spesies, akan tetapi dari beberapa spesies. Hama ini termasuk salah satu hama perusak tanaman bawang. Bila dicermati dari gejala penyakit yang timbul dan siklus hidupnya, maka hama tersebut termasuk ke dalam golongan hama thrips. Adapun ciri morfologinya dari hama ini adalah memiliki ukuran tubuh sangat kecil yaitu 1 mm dan berbentuk ramping. Warna tubuhnya pucat sampai kehitaman, memiliki antena, bersayap panjang dan sempit.

Siklus hidup dari hama thrips ini adalah induk biasanya meletakkan telurnya pada jaringan epidermis daun dan batang yang masih muda. Telur akan menetas setelah 4 sampai 10 hari kemudian. Dalam bentuk muda ataupun dewasa, hama thrips ini akan merusak jaringan epidermis daun dengan cara menghisap cairan yang keluar dari daun. Hal ini mengakibatkan daun menjadi kering dan akhirnya mati. Hama bawang merah ini mempunyai fase istirahat yang ada di dalam tanah. Hal ini dilakukan apabila kondisi lingkungan tidak menguntungkan hama thrips tersebut. Dalam satu tahun hama ini dapat menghasilkan beberapagenerasi.

Hama jenis ini dapat ditemukan di beberapa bagian tubuh tanaman seperti pada batang, dan juga daun serta dapat dijumpai di  berbagai jenis tanaman selain tanaman bawang misalnya pada tanaman tembakau, kapas, kentang, kacang kacangan dan cabai. Ada pula yang bertindak sebagai vektor dari penyakit pada tanaman.