Habitat Alga dan Jenis Yang Hidup Ditempat Tersebut

Jika kita membicarakan tentang habitat alga dan distribusinya di seluruh permukaan bumi, maka hal yang menarik perhatian adalah makroalga yang hidup melekat pada suatu subtrat (alga bentos) di perairan pantai dan mikroalga yang hidup melaang-layang di lapisan air permukaan (alga plankton dan fitoplankton) di perairan laut maupun air tawar.

Meskipun alga dapat dijumpai di berbagai macam habitat, misalnya di danau daerah Arktik, sumber mata air panas dan tanah yang kering, namun hanya kelas-kelas dari alga tertentu yang mempunyai anggota yang dapat ditemui dihabitat tersebut.

Alga di Lingkungan Perairan

Alga yang hidup di habitat perairan dibedakan menjadi 2 macam yaitu alga plankton dan bentos.

Alga Plakton

Alga pankton atau fitoplankton umumnya merupakan mikroalga yang hidup terapung, melayang-layang atau bergerak dengan gerakan yang sangat lemah, umumnya ditemukan di lapisan air permukaan baik perairan laut maupun air tawar. Fitoplankton dapat ditemukan di berbagai macam air, seperti di ceruk pasang (tide pool), danau yang luas maupun sempit dan bahkan di air temporer yang sempit sekalipun.

Seringkali organisme tadi begitu melimpah, hingga menyebabkan air tersebut berubah warna. Alga yang hidup terapung di sungai yang besar, mungkin berasal dari alga bentos yang terlepas dari substratnya. Fitoplankton merupakan komponen organisme yang penting dalam ekosistem perairan, karena fitoplankton melakukan fotosintesis sehingga ia merupakan produsen primer. Namun di sungai yang kecil dan beberapa tempat yang airnya tidak mengalir, produsen primer biasanya bukan fitoplankton tetapi alga bentos atau alga yang hidup melekat pada suatu substrat.

Telah diterangkan di atas, jika terjadi kemelimpahan dari jenis tertentu maka lapisan air permukaan dapat berubah warna, hal ini seringkali terjadi di air tawar seperti kolam ikan dan sawah. Di perairan laut perubahan warna air laut menjadi merah dan terkenal dengan nama “red tide” atau pasang merah. Peristiwa ini disebabkan adanya “bloom” fitoplankton dari kelompok dinoflagelata, misalnya Gymnodinium yang dapat menyebabkan keracunan pada organisme yang memakannya. “Bloom” alga adalah peristiwa meledaknya populasi alga pada suatu ekosistem air. Dikatakan meledak jika perbandingan konsentrasi alga mencapai ratusan hingga ribuan bahkan ada yang mencapai jutaan sel per milimeter.

Biasanya fenomena blooming alga ini berwarna hijau, namun terkadang ditemui juga warna kuning kecokelatan maupun merah, bergantung pada spesies dan pigmen warna yang dibawanya. Fenomena blooming dapat terjadi karena banyaknya nutrisi yang ada pada perairan tersebut. Nutrisi diperoleh dari proses eutrofikasi. Proses euttrofikasi yakni prosese pencemaran air dengan zat-zat makanan atau nutrien yang berlebih dalam suatu ekosistem air.

Tidak semua jenis fitoplankton yang menyebabkan red tide beracun. Ada pula jenis dari alga hijau-biru (Cyaobacteria) yang hidup di laut yaitu Lynbya majuscule, jika dalam keadaan melimpah akan menyebabkan air laut menjadi seperti warna serbuk gergaji dan menyebabkan gatal-gatal pada kulit para perenang. Di danau atau waduk air tawar kadang terjadi bloom dari suatu alga hijau biru, yaitu Microcystis, dan dapat menyebabkan kematian banyak hewan yang minum air waduk tersebut.

Selain fitoplankton yang mikroskopik, ada pula fitoplankton yang makroskopik, sebagai contoh Sargasum yang hidup melayanglayang sebagai penyusun komunitas alga di laut Sargaso.

Alga Bentos

Alga yang hidup sebagai bentos dapat dkelompokkan menjadi 2 berdasarkan ukurannya yaitu mikroalga dan makroalga.

1. Mikroalga

Alga ini mendapat banyak perhatian terutama karena peranannya sebagai produser primer di perairan laut maupun air tawar. Pada beberapa habitat air tawar, mikroalga bentik merupakan komponen produser primer yang penting bagi lingkungan tersebut. Alga bentik merupakan jenis alga yang hidup di dasar perairan dan melekat pada berbagai macam substrat, seperti tubuh alga lain atau tumbuhan air (epifit), hewan (epizoik), sedimen pasir (episemik), atau batu-batuan (epilitik). Alga yang hidup menempel pada berbagai macam substrat in disebut juga perifiton, meskipun dahulu perifiton hanya mengacu pada tumbuhan yang melekat pada tumbuhan lain. Beberapa contoh kelompok alga yang anggotanya dijumpai sebai mikroalga bentos adalah alga hijau (Chlorophyta), alga cokelat (Chrysophyta), alga hijau-biru (Cyaniphyta) dan diatom (Bacillariophyta). Seringkali mikroalga bentik seperti diatom, membentuk lapisan tipis yang disebut alga film, meskipun lapisan ini tidak hanya berisi alga.

Komunitas alga bentik seringkali ditemukan pada permukaan makroalga atau tumbuhan vaskuler di perairan laut dangkal, air tawar dan estuaria. Mikroalga bentos yang hidup epifit, melekat pada tumbuhan dapat membentuk kumpulan yang padat. Di perairan yang turbulen, alga bentik ini dapat terlepas dari substratnya dan menjadi alga plankton. Namun di perairan yang tenang, alga bentos yang terlepas dari substratnya dapat menempel dan tumbuh melekat pada substat yang baru.

2. Makroalga

Pada umumnya makroalga bentik hidup melekat pada substrat di pantai perairan aut, danau air tawar yang lias dan teluk. Alga ini sering membentuk stratifikasi vertikal di zona sublitoral (daerah yang secara berganti-ganti tergenang air dan terpapar ke udara akibat geraka pasang dan surut). Pada dasarnya makroalga bentik dapat ditemukan di sepanjang paparan benua dan tepi danau sampai kedalaman yang masih dapat dicapai sinar matahari.

Alga di Sumber Mata Air Panas

Di Sejumlah area di permukaan bumi, alga dapat ditemukan hidup di sumber mata air panas atau perairan yang mengalir dari sumber air panas tersebut. Menurut Brock (1969), alga hijau dikatakan termofil jika tumbuh dalam habitat air yang temperaturnya di atas 35ºC, sedangkan jika istilah tersebut digunakan untuk alga hijau-biru maka temperaturnya di atas 50°C. Oleh karena itu, organisme termofilik dapat didefinisikan sebagai organisme yang tumbuh dalam air atau teradaptasi pada air yang lebih tinggi temperaturnya dari rata-rata temperatur umumnya. Basanya hanya alga hijau dan alga hijau-biru yang bisa beradaptasi pada temperatur yang tinggi ini.

Temperatur maksmum untuk alga hijau-biru adalah 75°C, sedangkan untuk organisme eukariotik temperatur maksimumnya adalah 55°C. Cyanobacteria yang termofilik seperti Mastigoclaus, Oscillatoria dan Synebococus berproduksi dengan pembelahan sel atau fragmentasi. Tidak banyak alga yang termofilik bereproduksi dengan spora. Sedangkan diatom sumber mata air panas, Achantes, mampu untuk membelah menjadi dua per hari pada temperatur 40°C.

Alga di Habitat Salju

Alga yang mampu hidup di habitat dengan temperatur sekitar 0°C di dalam es atau salju disebut dengan kriofit (Cryophytes). Alga salju sejati tumbuh optimum pada temperatur 0°C dan tidak dapat hidup pada temperatur diatas 0°C. Alga yang hidup di salju seperti di Pegunungan Alpen dan di Kutub Utara ini sering menarik perhatian, karena pertumbuhannya yang luar biasa. Alga ini dapat menyebabkan salju berwarna kuning, merah, cokelat ataupun hijau kekuningan. Alga yang sama dapat menyebabkan warna yang berbeda, tergantung pada kondisi lingkungan dan pertumbuhannya. Jika kondisi lingkungan baik dengan zat hara yang memadai, alga hijau menunjukkan pertumbuhan yang baik dan menyebabkan warna hijau. Jika kondisi lingkungan kurang menguntungkan, alga hijau menghasilkan warna lain karena ia sedang dalam keadaan istrirahat dan pigmen sekunder dalam jumlah dominan.

Contoh alga yang umum hidup di salju adalah Chlamydomonas (Chlorophyta), Chromulina (Chrysophyta) dan Chryptomonas (Chrolophyta). Beberapa alga yang ditemukan di habitat es atau salju mungkin bukan kriofit sejati, melainkan alga aerial atau perairan yang terperangkap ketika es terbentuk. Pada saat musim dingin di wilayah yang beriklim sedang, alga di danau dapat tmbuh pada lapisan es terbawah dan dapat menghasilkan populasi yang padat. Alga yang diisolasi dari salju berwarna merah ternyata bukan alga salju sejati tetapi merupakan alga aerial.

Alga di Habitat Tanah

Banyak alga yang dijumpai tumbuh di habitat permukaan tanah sampai kedalaman beberapa milimeter dari permukaan tanah. Kebanyakan alga yang hidup di tanah merupakan alga uniseluler dan alga yang membentuk koloni padat. Contoh alga penghuni tanah adalah beberapa anggota dari kelompok alga hijau, alga hijaubiru, alga merah, diaton, Euglenophycheae dan Xanthophyceae. Kelompok alga in merupakan flora tanah yang menjadi perhatian karena membentuk populas yang cukup padat sehingga tampak sebagai lapisan berwarna hijau cerah, hijau kebiruan, merah atau bahkan hitam. Lapisan alga ini sering dijumpai di jalan dalam hutan yang lembab dan menyebabkan jalan menjadi licin sehingga pejalan kaki tergelincir.

Alga di Udara

Alga yang dijumpai di udara (lingkungan aerial) dapat berasal dari alga yang ada di habitat perairan yang terbawa ke udara melalui percikan air yang dihasilkan oleh ombak. Alga aerial juga dapat berasal dari permukaan tanah. Ketika tanah menjadi kering, partikel-partikel kecil bersama alga dan mikroorganisme lainnya di permukaan tanah dapat terbawa oleh gerakan angin yang lembut ke udara. Alga aerial dapat diisolasi dari udara menggunakan media kultur tertentu yang dipaparkan di udara. Alga aerial meliputi beberapa anggota dari kelompok Chrysophyceae, Cyanophceae, Euglenophyceae, Xanthophyceae dan Bacillariophyceae.