Bunga Nasional Thailand

Jika Jepang dikenal dengan kecantikan bunga sakuranya, maka Thailand memiliki bunga Ratchaphruek (Cassia fistula) atau yang kerap dijuluki  sebagai Bunga Nasional Thailand. Bunga ini begitu ikonik karena warna kuning keemasan sebagai lambang dan warna mantan Raja Thailand, Bhumibol Adulyadej.

Kehadiran Ratchaphreuk melengkapi bunga nasional negara ASEAN lainnya, seperti bunga Simpor milik Brunei, bunga Rumdoul milik Kamboja, Dok Champa milik Laos hingga raflesia milik Indonesia.

Penetapan bunga nasional tidak dilihat dari lokasi penemuan bunga tersebut pertama kali, atau asal mulanya. Melainkan, tanaman yang dianggap mewakili karakter bangsa dan negara di dalamnya. Kadangkala, bunga nasional juga menjadi simbol kebanggaan negara tersebut.

Tanaman Ratchaphruek juga tersebar dinegara Asia Tenggara lainnya, seperti Indonesia. Di Jawa Tengah tanaman ini disebut trengguli wanggann, sedangkan orang Sunda mengenal pohon ini dengan sebutan bobondelan. Terdapat pula varian bunga lain yang ditemukan di Indonesia, varian ini masih termasuk ke dalam spesies yang sama tetapi bunganya berwarna merah jambu serupa bunga Sakura di negeri Jepang.

Mengenal Bunga Nasional Thailand

Ratchaphruepunya beberapa nama lain yang juga cukup populer seperti golden shower, golden chain (rantai keemasan) atau trengguli. Meski telah menjadi bunga nasional Negara Gajah Putih, Cassia fistula sebenarnya merupakan tanaman yang berasal dari daratan India yang kemudian menyebar ke berbagai negara Asia lainnya.

Sebagaimana bunga pada umumnya, jenis tanaman ini juga digunakan sebagai tanaman hias. Ratchaphrue lebih banyak dibudidaya dan khas dengan warna kuning mencolok. Kendati demikian, beberapa juga memiliki warna merah.

Pohon dari Ratchaphrue juga memiliki buah berbentuk biji berwarna coklat yang menggantung di antara ranting. Panjangnya, bahkan bisa mencapai 60 cm. Jika sekali lihat, bentuknya mungkin mengingatkan Anda pada kembang merak.

Uniknya, bunga ini akan merontokkan daunnya lalu meninggalkan bunga yang menggantung secara berkelompok. Warna kuning keemasan yang menjuntai dan tumbuh berantai terlihat elok dengan tangkai kecil yang memanjang.

Karena kecantikan dan warna inilah, Ratchaphrue kemudian dinobatkan sebagai Bunga Nasional Thailand. Sejumlah negara ASEAN sendiri juga telah menetapkan beberapa bunga nasional mereka.

Warna kuning terang yang terdapat pada bunga dinilai mewakili Agama Buddha serta Raja Rama IX, yang juga merupakan budaya setempat. Di negara tersebut, bunga ini hanya mekar pada periode Februari hingga Mei.

Makna harmoni, Budhisme dan kejayaan menjadikannya sebagai simbol bangsa yang dipercaya masyarakat setempat. Karenanya, jika mengunjungi negara tersebut Anda akan mudah menemuinya di pelbagai sudut jalan, terlebih tempat wisata sebagai peneduh jalan.

Di Indonesia sendiri, tanaman ini belum cukup dikenal atau menjadi opsi masyarakat dalam memilih tanaman hias. Trengguli atau kayu raja, adalah penyebutan yang lebih akrab di Indonesia dibanding dengan nama cassia fistula.

Seiring waktu dan ragam tanaman hias yang muncul, bunga ini secara alami tumbuh di banyak kawasan Asia termasuk Asia Tenggara. Tak hanya sebagai tanaman hias, beberapa orang juga memanfaatkannya sebagai obat tradisional.

Keanekaragaman Jenis Bunga Ratchaphrue

Seperti yang telah saya sebutkan diatas, terdapat varietas Ratchaphrue lain yang bisa menjadi pilihan selain warna kuning keemasan yang cukup populer. Diantaranya adalah yang memiliki mahkota berwarna merah tua atau merah keputihan.

Beberapa juga muncul dengan kelopak merah tua hingga coklat kemerahan. Perbedaan mencolok lain yakni tidak memiliki daging buah coklat yang kehitaman seperti Ratchaphrue biasa, melainkan buah yang menyerupai gabus kering.

Jenis dengan nama latin C.Javanica ini, memiliki daun penumpu dengan bentuk setengah bulan sabit. Beda halnya dengan Cassia fistula yang serupa tanaman paku.

Sebagai Alternatif Pengobatan

Tak hanya dimanfaatkan sebagai tanaman hias, bunga nasional Thailand juga banyak digunakan sebagai alternatif pengobatan penyakit luar. Umumnya dengan kulit batang trengguli atau daun untuk menjadi pupuk hijau.

Tinggi pohon yang bisa mencapai 15 m bisa menghasilkan cukup banyak kulit batang. Beberapa penyakit yang dianjurkan dalam pengobatannya macam cacar air, tekanan darah tinggi, pusing, urat saraf lemah, sembelit hingga kencing batu.

Sifat kimiawi serta efek farmakologis yang terdapat pada batang memungkinkan khasiat untuk pengelat, pencahar serta penurun demam. Sementara itu, buahnya memiliki kandungan tannin, gom, gula, asam sitrat, saponin juga asam hidrosianik yang punya banyak manfaat.

Melihat pada strukturnya, seluruh bagian tanaman rupanya bisa digunakan sebagai alternatif pengobatan mulai dari akar, buah, daun hingga biji. Saran pemakaian luar yang disarankan dengan menghancurkan kulit atau akar untuk kemudian dioleskan pada bagian yang sakit.

Sedangkan untuk pemakaian dalam dianjurkan menggunakan 15-60 gram daun atau biji yang direbus, lalu diminum. Tentunya, pengobatan yang dilakukan secara teratur akan memberi hasil yang lebih baik nantinya.

Budidaya Bunga Nasional Thailand di Indonesia

Di Indonesia, Bunga Nasional Thailand ini mungkin tak setenar anggrek atau mawar. Tidak juga sepopuler pohon tabebuya atau kersen yang digunakan sebagai peneduh jalan dan rumah. Tapi, warna yang elok dan aroma yang wangi bisa menjadi rekomendasi tanaman yang berbeda.

Warna kuning cerah yang bersusun di tiap tangkainya, memberi kesan asri juga rindang. Trengguli sangat baik ditanam pada sisi jalan protokol, selain membuat kota terlihat sejuk juga memberi warna yang manis.

Kondisi tropis Indonesia sangat cocok bagi tanaman ini, yang bahkan bisa tumbuh liar di hutan dengan iklim kering sekalipun. Sebagai tanaman dengan ragam khasiat dan manfaat, menemukan bibit tanaman ini juga terbilang mudah. Struktur pohon yang tinggi menjulang terlebih dengan perawatan yang mudah