Categories: Tanaman

Budidaya Bunga Krisan

Budidaya bunga krisan di Indonesia merupakan sebuah peluang usaha yang sangat prospektif. Hal ini dikarenakan bunga krisan potong ataupun pot kini semakin diminati pasar Indonesia, sehingga dapat memberikan kontribusi kepada para pelaku bisnis krisan sekaligus mendukung pemngembangan florikultura secara nasional. Hanya saja tanaman bunga ini hanya bisa berbunga pada daerah dengan suhu dibawah 20 derajat celcius. Oleh sebab itu, di Indonesia yang beriklim tropis hanya daerah dataran tinggi sajalah yang bisa dijadikan tempat budidaya bunga krisan.

Tahapan Budidaya Bunga Krisan

Budidaya bunga krisan pada umumnya dilakukan langsung di tanam di bedengan-bedengan yang berada di dalam rumah lindung. Beberapa tahapan yang harus anda lakukan diantaranya adalah penyiapan bibit, penyiapan lahan, pembuatan rumah lindung, penanaman, perawatan tanaman dan panen.

Penyiapan Bibit

Produksi bibit krisan dalam negeri tiap tahun terus meningkat, namun impor bibit bunga ini pun mengalami peningkatan. Hal ini dikarenakan kebutuhan bibit krisan dalam negeri meningkat dengan sangat cepat, sehingga kemampuan produksi bibit di dalam negeri tidak bisa mengimbanginya. Bibit krisan yang baik harus memenuhi syarat diantaranya vigor yang baik, seragam, bebas hama dan penyakit, pertumbuhan akar yang bagus, daun tidak berkarat, batang bibit tidak terlalu tinggi dan berasal dari varietas unggul komersial. Kebutuhan bibit krisan per satuan luas lahan, tergantung sistem penanaman dan jarak tanam. Pada umumnya krisan ditanam secara monokultur, lahan seluas 0,1 hektar (1.000 m3) membutuhkan 10.000 bibit.

Penyiapan Lahan

Penyiapan lahan dilakukan dalam bentuk beengan-bedengan yang diawali dengan pembersihan rumput liar. Kemudian tanahnya diolah dengan dicangkul atau dibajak sedalam 30 cm hingga gembur. Selanjutnya dikeringkan selama 15 hari. Tanah digemburkan kembali saat membuat bedengan-bedengan dengan ukuran lebar 100 – 120 cm, tinggi 20 – 30 cm,panjang disesuaikan dengan lahan dan jarak antar bedengan 30 – 40 cm. Tanah yang mempunyai pH < 5,5 perlu dilakukan pengapuran dengan kapur pertanian. Dosis kapur tergantung pH tanah, misalnya pH 5 diperlukan dolomit sebanyak 5,02 ton/hektar. Pengapuran dilakukan dengan cara menyebar kapur pertanian tadi secara merata di permukaan bedengan.

Pembuatan Rumah Lindung

Di dalam budidaya bunga krisan, rumah lindung merupakan salah satu faktor yang penting untuk dikerjakan. Rumah lindung dibangun sesuai dengan luas lahan, arah matahari dan kekuatan konstruksi bangunan yang diinginkan. Ketinggian rumah lindung sekitar 3 – 4,5 m dari permukaan tanah, lebar kelipatan 160 cm dan panjang disesuaikan dengan ketersediaan lahan. Atap rumah plastik dapat dirancang dengan beberapa macam bentuk diantaranya bersudut atau tipe A (gaple), miring, melengkung (busur) dan balbo. Tipe baldo ditandai dengan dua atap menggunakan pipa melengkung, atap yang satu dengan lain dibiarkan menganga untuk ventilasi.

Berdasarkan bahan yang digunakan untuk mendirikan rumah lindung, dapat dibuat dari bambu, kayu, kayu + pipa ledeng,besi siku + kayu dan pipa ledeng atau pipa besi baik dilas atau tidak, tergantung ketersediaan bahan di daerah setempat dan biayanya. Ukuran atau dimensi rumah lindung disesuaikan dengan keperluan sistem budidaya bunga krisan dan ukuran bahan yang tersedia di pasaran. Bangunan rumah lindung untuk budidaya krisan bunga potong pada umumnya dibangun lebar bangunan dengan kelipatan dari 6,4 m dan panjangnya sesuai dengan ketersediaan lahan, tergantung lebar dan jarak antar bedengan.

Sarana penunjang yang perlu disediakan di dalam rumah lindung antara lain irigasi dan instalasi listrik. Untuk tambahan pencahayaan diperlukan lampu pijar 75 – 100 watt/ TL 40 watt pada tiap titip (70 lux). Jarak lampu 2 x 2,5 m dengan tinggi 1,5-2 m dari permukaan bedengan. Penyinaran pada penanaman krisan mulai pukul 22.00 – 02.00,10 menit hidup dan 10 menit mati. Keuntungan budidaya bunga krisan di rumah lindung antara lain adalah produksi dapat jauh lebih tinggi, tanaman terlindung dari terpaan air hujan dan gangguan beberapa jenis hama. Kekurangannya adalah investasi tinggi, serangga kecil masih dapat masuk, pengairan selalu diperlukan walaupun musim hujan.

Cara Menanam Bunga Krisan

Pola tanam krisan pada umumnya secara monokultur. Sebelum bibit krisan ditanam, dilakukan pembuatan lubang tanam dan pemberian pupuk dasar yang terdiri atas pupuk organik matang 30 ton/hektar, Urea 200 kg/hektar, KCl 35 kg/hektar dan SP-36 300 kg/hektar yang dicampur dan diaduk sampai rata. Penanaman biasanya disesuaikan dengan waktu panen, yang dilakukan pada hari-hari besar. Waktu tanam yang baik antara pagi atau sore hari.

Cara menanam tanaman krisan, mula-mula ambil bibit krisan satu per satu dari wadah penampungan bibit, lalu tanamkan tanaman pada lubang yang telah disiapkan. Jarak tanam krisan bunga potong sangat tergantung musim, kultivar dan metode pengaturan bunga. Jarak tanam untuk stek yang di pinching adalah 15 x 18 cm di musim penghujan. Stek yang berada di bagian pinggir bedengan diatur tiga tunas. Untuk krisan yang diproduksi 1 tangkai (tanpa pinching) ditanam dengan jarak tanam 10 x 15 cm di musim kemarau dan 13 x 15 cm di musim penghujan. Beberapa kultivar yang mempunyai daun lebar memerlukan jarak tanam 15 x 15 cm. Setelah selesai menanam, siramlah tanahnya dengan air bersih serta beri naungan dari sungkup plastik transparan.

Cara Merawat Tanaman Bunga Krisan

Pemeliharaan tanaman bunga krisan dilakukan secara kontinu, cermat dan teliti. Kegiatan pokok yang harus dilakukan dalam merawat bunga krisan pada prinsipnya meliputi aktivitas-aktivitas berikut ini ;

Penyulaman

Waktu penyulaman dilakukan seawal mungkin, yaitu 10 -15 hari setelah tanam agar pertumbuhan tanaman budidaya krisan anda secara keseluruhan relatif seragam. Penyulaman dilakukan dengan cara mengganti bibit krisan yang mati atau pertumbuhannya lambat dengan bibit yang baru.

Pengairan atau Penyiraman

Pengairan atau penyiraman dilakukan untuk menambah sumber air bagi tanaman sehingga tanaman krisan dapat mencari air dengan mudah. Pemberian air ini juga tidak boleh berlebihan karena akan mengganggu kehidupan tanaman dan memancing datangnya penyakit. Pengairan pada tanaman krisan dapat dilakukan dengan cara pengaliran di atas tanah, di dalam tanah (sub irrigation), penyemprotan (sprinkler irrigation) dan tetes (drip irrigation). Penyiraman atau pengairan yang paling baik dilakukan secar akontinum 1-2 kali sehari, pagi dan sore hari, tergantung cuaca(iklim) dan media tumbuh. Pengairan sebaiknya dilakukan dengan cara mengabutkan air atau sistem irigasi tetes hingga tanah basah. Setiap kali penyiraman, jumlah air yang dibutuhkan antara 5 – 15 liter/m2.

Related Post

Pengaturan dan Penambahan Cahaya

Pengaturan dan penambahan cahaya untuk bunga krisan diatur sesuai dengan keinginan pembudidaya/ Misalnya, bila diinginkan bunga krisan bertangkai 70 cm, maka penambahan cahaya dilakukan hingga ketinggian 50 – 60 cm. Selanjutnya, setelah tanaman memiliki ketinggian 70 cm lampu dimatikan. Periode selanjutnya tanaman akan masuk ke fase generatif, sehingga kebutuhan cahayanya tidak terlalu banyak. Cara penambahan cahaya ini dilakukan dengan menyalakan lampu pada tengah malam mulai pukul 22.30 – 01.00. Sehingga dengan menambahkan cahaya lampu tersebut, tanaman krisan tetap dapat berfotosintesis pada tengah malam untuk memproduksi nutrisi.

Penyiangan

Waktu penyiangan biasanya bersamaan dengan penggemburan tanah pada umur 2 minggu setelah tanam. Penyiangan dilakukan secara manual yaitu mencabut rumput dengan tanah atau menggunakan cangkul secara hati-hati hingga rumput-rumput liar bersih. Rumput liar tersebut sebaiknya dikubur dalam lubang untuk dijadikan kompos.

Pemupukan

Pemupukan bertujuan meningkatkan pertumbuhan dan mutu bunga krisan. Pemupukan diberikan pada saat tanaman menunjukkan sejumlah kebutuhan unsur hara agar diperoleh keefisienan yang maksimal. Pupuk terdiri atas unsur esensial makro, yaitu unsur penting yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak agar siklus hidupnya tidak terhenti, seperti N, P, K, Ca, Mg, H dan O. Sedangkan unsur esensial mikro berupa unsur penting yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah sedikit agar siklus hidupnya tidak terhenti, meliputi Fe, Mn, Zn, Cu, Cl, Mo dan B. Pemberian pupuk kepada tanaman krisan dimulai umur 1 bulan setelah tanam, kemudian diulang setiap sebulan sekali.

Pupuk yang diberikan selama budidaya krisan dibedakan menjadi 2 tahap yaitu pupuk untuk fase vegetatif dan fase generatif. Pada fase vegetatif, pupuk yang diberikan berupa Urea 200 gram + Za 200 gram + KNO3 100 gram per m2 luas lahan. Pada fase generatif digunakan pupuk urea 10 gram + TSP atau SP-36 10 gram + KNO3 25 gram per m2 luas lahan. Cara pemberian pupuk dengan disebar dalam larikan atau lubang ditugal disamping kiri dan samping kanan barisan tanaman krisan. Dapat pula ditambahkan pupuk daun sebagai perlakuan tambahan.

Pemotongan atau Pemotesan Kuncup Bunga Krisan

Pemotesan dilakukan sesuai standar perkembangan tanaman krisan. Pemotesan dilakukan pada saat tanaman krisan memasuki stadium kuncup bunga apikal atau lateral dan memiliki tinggi sekitar 10 – 15 cm. Selain melakukan pemotongan kuncup, anda perlu juga melakukan perompesan daun yang sudah tua. Perompesan daun tua bertujuan mengurangi penguapan dan mendorong pertumbuhan. Waktu pembuangan titik tumbuh pada umur 10-14 hari setelah tanam, dengan cara memotong ujung tanam sepanjang 5 cm. Jika anda ingin memproduksi bunga yang berukuran besar, maka dalam 1 tangkai bunga disisakan 1 bunga saja dan kuncup bunga lainnya dipotong.

Pengendalian OPT

Seperti yang terjadi dalam budidaya tanaman lainnya, pada budidaya bunga krisan terjadi pula serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Pengendalian OPT dilakukan secara terpadu yang ramah lingkungan. Beberapa cara pengendalian OPT terpadu diantaranya adalah dengan teknik budidaya, fisik, hayati dan kimiawi. Pengendalian cara teknik budidaya dititik beratkan pada pengurangan populasi hama dengan cara menghilangkan tanaman atau bagian yang terserang, pergiliran tanaman, pengaturan populasi tanaman dan karantina tanaman.

Pengendalian secara fisik dilakukan dengan menghilangkan binatang hama dari tanaman, pencabutan gulma, penggunaan zat penarik, penggunaan perangkap hama dan perlakuan panas untuk mencegah penyakit. Pengendalian cara hayati dilakukan dengan pemanfaatan predator dan parasit, penggunaan tanaman resisten dan pemanfaatan binatang pengusir hama. Pengendalian cara kimiawi dengan pestisida nabati atau kimia murni yang diaplikasikan tepat takaran, cara, intensitas dan sasarannya. Pengendalian OPT secara kimia didalam budidaya bunga krisan ini sebaiknya dilakukan apabila cara lain yang lebih ramah lingkungan kurang berhasil. Penggunaan dan pengembangan pestisida nabati dapat menutup kelemahan pestisida kimia murni yang merusak lingkungan dan tanaman krisan yang kita budidaya.

Pada budidaya tanaman bunga krisan, faktor Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), selain berupa hama dan mikroba penyebab penyakit (jamur, bakteri dan virus) juga gulma sebagai kompetitor tanaman dalam mendapatkan unsur hara, air, energi cahaya matahari, CO2, O2 dan ruang hidupnya. Selain itu zat alelopati yang dikeluarkan gulma, seringkali menentukan tingkat pertumbuhan dan produksi bunga krisan.

Panen Bunga Krisan

Tanaman krisan biasanya akan mulai berbunga setelah 3-4 bulan dari waktu tanam, tergantung pada varietas atau kultivar. Pada krisan jenis standar penentuan stadium panen yang tepat adalah ketika bunga telah 1/2 mekar atau 3-4 hari sebelum mekar penuh. Jika Yang ditanam adalah yang berjenis spray, maka anda mulai bisa memanen apabila 75-80% bunga yang ada di dalam tangkai telah mekar.

Pemanenan budidaya bunga krisan sebaiknya dilakukan sewaktu bunga mengandung banyak air, yaitu pagi hari sekitar pukul 06.00 – 08.00, saat suhu udara tidak terlalu tinggi dan saat tekanan turgor optimum. Walaupun demikian, pemanenan dapat juga dilakukan sore hari pada pukul 16.00 – 17.00. Hal itu dikarenakan pada pukul tersebut penghisapan air yang dilakukan oleh tanaman berlangsung lebih banyak daripada penguapannya. jika pemanenan dilakukan pada siang hari, dikhawatirkan tanaman krisan sudah mulai melakukan metabolisme secara aktif, sehingga daya tahan bunga terhadap kelayuan menjadi rendah.

Tata cara pemanenan budidaya bunga krisan adalah mula-mula ditentukan terlebih dahulu tanaman yang siap dipanen. Kemudian potong tangkai bunga dengan gunting atau pisau steril sepanjang 60 – 80 cm dengan menyisakan tunggul batang setinggi 20-30 cm dari permukaan tanah. Perkiraan hasil budidaya bunga krisan pada jarak 10 x 10 cm seluas 1 hektar adalah sebanyak 800.000 tanaman.

Pada saat panen, bunga langsung dilakukan pengikatan di lapangan (kebun). Bunga yang diikat adalah bunga yang sejenis dan sama gradenya. Jumlah tangkai bunga per ikat disesuaikan dengan besarnya diameter bunga, yaitu minimal berdiameter 20 cm bila dibungkus dengan jumlah 10 tangkai bunga. Bunga yang sudah diikat,disimpan dalam wadah berisi air agar tidak mudah layu. Produktivitas budidaya bunga krisan sudah cukup baik jika diperoleh 50 tangkai bunga per m2.