Jenis Rumput Laut

Rumput laut merupakan jenis tumbuhan laut yang hidup di dasar perairan (fitobentos), berukuran besar dan didalam taksonomi tumbuhan dimasukan ke dalam divisi thallophyta. Secara garis besar, jenis rumput laut dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu adalah sebagai berikut :

Rumput Laut merah

Rumput laut merah  atau dalam taksonomi tumbuhan disebut sebaga kelas Rhodophyceae, merupakan jenis rumput laut yang paling bermanfaat bagi manusia. Kelompok tumbuhan ini hidup sebagai fitobentos di dasar laut dengan melekatkan tubuhnya pada substrat, seperti pasir, lumpur, terumbu karang, cangkang mollusca, batu ataupun kayu sisa kapal karam. Mereka hidup pada kedalaman sekitar 40 – 130 meter dibawah permukaan laut.

Jenis rumput laut ini sangat suka hidup di terumbu karang, oleh karena ini persebarannya biasanya mengikuti pula persebaran terumbu karang yang ada di laut. Di daerah yang banyak ditemukan terumbu karang, hampir dipastikan akan banyak ditemukan rumput laut merah, begitupun sebaliknya, jika di suatu perairan terumbu karangnya sudah rusak maka rumput laut merahnya akan jarang ditemukan. Terumbu karang sendiri menyukai hidup di air laut yang jernih, bebas dari sedimentasi dan salinitas tinggi (30 ppt atau lebih).

Di Indonesia, semakin ke timur makan tingkat kejernihan air laut dan salinitas airnya semakin tinggi. Oleh karena itu di bagian timur indonesia, kondisi terumbu karangnya biasanya lebih baik daripada di bagian barat. Otomatis, keanekaragaman rumput laut merah yang ada di Indonesia bagian timur semakin tinggi. Menurut Mubarak (1990), pada tahun 1990 sekitar 48,5% laut indonesia timur ditumbuhi rumput laut merah secara alami. Saat ini mungkin jumlah tersebut lebih rendah karena adanya pengrusakan terumbu karang yang diakibatkan penggunaan bom dan cantrang oleh nelayan..

Siklus hidup rumput laut merah sangat beragam, ada yang melakukan pergantian fase hidup didalam siklus hidupnya. Misalnya terjadi pergantian antara fase sporofit dan gametofit di dalam siklus hidupnya. Terkadang antara sporofit dan gametofit ini terlihat memiliki penampilan fisik yang sama. Rumput laut tidak memiliki spora yang berenang, persebaran sporanya sangat bergantung pada arus.

Di Indonesia, terdapat kurang lebih 34 jenis rumput laut merah yang tersebar didalam 17 genus. Sebagian besar rumput laut merah ini telah dimanfaatkan oleh manusia dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Sekitar 23 jenis rumput laut merah telah dapat dibudidayakan oleh manusia, yaitu 6 spesies genus Eucheuma, 3 spesies genus Gelidium, 10 spesies genus Gracilaria dan 4 spesies genus Hypnea.

Keempat geus tersebut memiliki nilai ekonomi yang tinggi bagi manusia karena mengandung keraginan atau agar-agar. Anggota genus Eucheuma dan Hypnea di dalam tubuhnya mengandung keraginan (karaginofit) sedangkan anggota genus Gracilaria dan Gelidium mengandung agar-agar (agarofit).

Dalam teknik budidayanya, genus Echeuma membutuhkan subtrat yang tidak lunak dan tidak keras sebagai hidupnya, misalnya pasir dan pecahan karang. Selain itu, ia juga hanya dapat hidup di daerah yang memiliki arus sedang dan salinitas antara 29-34 ppt. Arus air yang terlalu kuat akan menyebabkan bagian talusnya patah, sedangkan air yang tidak berderat menyebabkan ia tidak bisa mendapatkan makanannya sehingga tidak dapat tumbuh dengan baik.

Anggota genus Gracilaria lebih mudah dibudidayakan, karena ia relatif bisa hidup di habitat yang cukup beragam. Gracilaria dapat hidup menempel pada karang, kulit kerang, lumpur atau pasir pada daerah dengan arus tenang ataupun sedang. Range salinitas dimana ia bisa hidup juga cukup luas, antara 15 – 34 ppt. Hal itulah yang menyebabkan jenis rumput laut merah ini yang banyak dibudidayakan oleh manusia.

Sedangkan spesies anggota genus Gelidium membutuhkan tempat hidup di daerah yang berarus kuat dan menempel pada substrat yang keras. Biasanya Gelidium hidup secara alami pada daerah pantai selatan pulau Jawa. Walaupun cara budidayanya sudah diketahui, masih jarang orang yang mau membudidayakannya.

Rumput Laut Hijau

Rumput laut hijau digunakan untuk menyebut anggota kelas Chlorophyceae. Di perairan Indonesia dapat ditemukan sekitar 300 spesies Chlorophyceae dan sekitar 14 diantaranya telah dimanfaatkan oleh manusia, baik untuk makanan ataupun obat-obatan. Rumput laut hijau biasanya hidup pada dasar laut menempel pada batu, terumbu karang, cangkang mollusca ataupun tumbuh didalam pasir laut. ia dapat hidup pada kedalaman sekitar 10 meter, dimana sinar matahari masih dapat masuk kedalamnya. Hal itu dikarenakan ia membutuhkan sinar matahari untuk melakukan proses fotosintesis yang akan menghasilkan sari makanan untuknya.

Rumput laut hijau dapat berkembang biak secara seksual dan aseksual. Hal itu dikarenakan di dalam siklus hidupnya terdapat 2 fase yaitu gametofit dan sporofit. Perkembangbiakan secara seksual dilakukan pada saat fase gametofit, dengan cara membentuk dua sel kelamin yang disebut gamet berbulu getar dua. Gamet ini kemudian dilepaskan kedalam air, dan dia air mereka akan bersatu yang kemudian akan tumbuh menjadi suatu tumbuhan baru fase sporofit. Pada saat fase sporofit ini akan membentuk zoospora berbulu empat. Zoospora ini akan dilepas kelaut dan tumbuh menjadi tumbuhan fase gametofit.

Rumput Laut Cokelat

Jenis rumput laut ini merupakan semua anggota kelas Phaeophyceae. Di perairan Indonesia terdapat sekitar 8 genus dan 6 diantaranya telah dimanfaatkan oleh manusia sebagai bahan makanan dan obat-obatan. Jenis rumput laut ini merupakan penghasil algin (alginofit), terutama yang berasal dari genus Sargassum, Cystoseria dan Turbinaria. Genus Sargassum merupakan tumbuhan kosmopolitan yang hidup pada terumbu karang, ia melekat dengan baik pada substrat yang keras.

Dibandingkan dua jenis rumput laut lainnya, rumput laut cokelat memiliki ukuran yang lebih besar dan seringkali tumbuh bergerombol. Bahkan seringkali mereka tumbuh membentuk padang rumput yang ada di laut dengan puluhan ribu tanaman yang tumbuh secara bersama-sama. Padang rumput laut ini juga menjadi tempat tinggal ratusan ribu ikan neritik yang mendapatkan makanan darinya. Selain itu, pada rumput ini merupakan tempat berlindung yang aman bagi ikan neritik dari serangan predator.

Perkembangbiakan rumput laut cokelat hampir sama dengan jenis lainnya yang telah diulah diatas. Didalam siklus hidupnya, terdapat pergantian generasi antara fase sporofit dan gametofit. pada fase sporofotitnya, ia akan menghasilkan satu seri sori yang berbentuk seperti bercak cokelat kehitaman yang memanjak di daunnya. Seri sori ini pada saat matang akan dilepaskannya ke lautan, seri sori akan pecah dan mengeluarkan zoospora berbulu getar yang jumlahnya ribuan. Zoospora ini akan menjadi sebuat tanaman baru fase gametofit saat menempel di substat. Keluarnya ribuan zoospora di dalam satu seri sori inilah yang menyebabkan dapat terjadinya padang rumput laut cokelat karena setiap zoospora dapat tumbuh menjadi satu tanaman baru.

Saat fase gametofit, akan menghasilkan sebuah sel gamet yang akan saling membuahi dilaut ketika dilepaskan. Fase gametofit bentuknya tidak berbeda jauh dengan pada saat fase sporofit, perbedaanya ada di dua hal, yaitu pada ada tidaknya bercak hitam di bagian daunnya. Selain itu, pada fase gametofit terdapat ribuan konseptakel berbentuk cawan yang berukuran sangat kecil, didalamnya terdapat gamet yang berbentuk seperti spora.