Prinsip Prinsip Dasar Ilmu Sejarah

prinsip dasar ilmu sejarahSejarah adalah salah satu ilmu yang dipelajari di tingkat pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Meski sering dipelajari, tidak semua orang tahu mengenai prinsip prinsip dasar di dalam ilmu sejarah. Apalagi, sejarah justru sering dianggap remeh oleh generasi muda yang ada di tanah air. Untuk itu, kali ini akan dibahas seputar prinsip prinsip dasar dalam ilmu sejarah yang perlu untuk diketahui. Yuk simak ulasannya hingga selesai!

2 Prinsip Dasar Dalam Ilmu Sejarah

Sebelum membahas mengenai prinsip prinsip dasar ilmu sejarah lebih jauh. Akan lebih baik, bagi kita untuk mengetahui tentang pengertian ilmu sejarah dan bagaimana ciri-cirinya. Sejarah sendiri berasal dari kata syajaratun (bahasa Arab) yang memiliki arti pohon. Kata sejarah di dalam bahasa Indonesia memiliki arti kejadian atau peristiwa, asal usul atau silsilah, dan cerita tentang peristiwa di masa lalu.

Sejarah juga memiliki beberapa ciri-ciri utama, yaitu unik, abadi, dan penting. Keunikan dari sejarah karena peristiwa ini hanya terjadi sebanyak satu kali dan tidak terulang untuk kedua kalinya. Abadi di dalam sejarah memiliki makna peristiwa yang tidak berubah dan tetap dikenang sepanjang masa. Sejarah juga penting karena menjadi momentum yang bisa menentukan kehidupan banyak orang.

Sebuah peristiwa sejarah baru bisa dibilang valid apabila didalamnya terdapat 2 prinsip dasar yang menyertainya. Kedua Prinsip dasar di dalam ilmu sejarah tersebut, yaitu :

Sumber Sejarah

Sumber menjadi salah satu hal yang wajib ada ketika kita membicarakan suatu sejarah. Tanpa adanya suatu sumber yang valid, sebuah cerita hanyalah sebuah dongeng belaka.Secara garis besar, sumber sejarah terbagi menjadi dua, yaitu sumber yang primer dan sumber sekunder.

1. Sumber Sejarah Primer

Sumber sejarah primer merupakan sumber yang asli, berasal dari pelakunya secara langsung, atau orang yang menjadi saksi dari peristiwa sejarah tersebut. Sumber sejarah primer bisa berupa sesuatu yang tertulis, disampaikan secara lisan, atau berupa benda.

Sumber sejarah berupa tulisan biasanya ditemukan di dalam peninggalan-peninggalan yang tertulis, seperti prasasti, piagam, babad, tambo, naskah, rekaman, dokumen, dan jenis sumber lainnya yang tertulis. Biasanya sumber sejarah yang berupa tulisan ini menjadi satu-satunya hal yang tersisa apabila suatu peristiwa telah terjadi terlalu lama.

Sementara itu, sumber sejarah lisan bisa berupa keterangan yang diberikan langsung oleh pelaku atau saksi mata dari peristiwa di masa lalu. Salah satu sumber sejarah berupa lisan berasal dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) yang menjadi saksi dan pelaku langsung dari peristiwa sejarah masa lampau.

Sumber sejarah primer yang berupa benda berupa peninggalan berupa benda yang bernilai sejarah. Contohnya adalah candi, gerabah, bangunan budaya, patung, perhiasan, dan benda bersejarah lainnya. Dari benda bersejarah ini bisa terbangun sebuah penjelasan sejarah yang terjadi pada masa itu.

2. Sumber Sejarah Sekunder

Selain primer, sumber sejarah juga bisa bersifat sekunder sebagai penguat prinsip dasar ilmu sejarah. Apabila sumber primer berasal dari hal-hal yang berkaitan secara langsung dengan peristiwa sejarah, sumber sekunder ini berasal dari perantara. Surat kabar yang ditulis oleh seorang sejarawan berdasarkan sumber primer merupakan salah satu contoh sumber sejarah sekunder.

Sejarawan di sini berperan sebagai perantara karena tidak memiliki hubungan secara langsung dengan peristiwa tersebut. Akan tetapi, hasil penelitian dari seorang sejarawan sangat bermanfaat untuk memberikan fakta sejarah berdasarkan sumber primer yang ada. Umumnya, bentuknya bisa berupa naskah atau catatan yang dibukukan.

Subjektivitas dan Objektivitas Sejarah

Prinsip dasar ilmu sejarah yang kedua adalah subjektivitas dan objektivitasnya. Tafsiran dari suatu peristiwa sejarah tidak terlepas dari subjektivitas dan objektivitas. Objektivitas sejarah terikat pada fakta atau peninggalan sejarah yang disebut dengan objek. Objek disini berguna untuk merekonstruksi sebuah peristiwa sejarah. Untuk itu, seorang sejarawan dituntut untuk selalu jujur dan terikat dengan fakta sejarah yang ada.

Hal ini menjadi penting karena akan sangat berkaitan dengan pengungkapan fakta sejarah yang diterima oleh masyarakat luas. Akan tetapi, prinsip dasar ilmu sejarah yang bersifat objektif ini tidak dapat dilakukan oleh seorang sejarawan secara 100 persen. Hal ini bisa dipicu oleh banyak faktor, seperti kekurangan sumber atau faktor lainnya.

Oleh karena itu, muncullah subjektivitas sejarah yang berkaitan dengan pendapat pribadi seorang sejarawan atau golongan. Meskipun terkesan aneh, hal ini juga diperlukan dalam menyambung satu peristiwa sejarah dengan peristiwa lainnya agar menjadi satu-kesatuan sejarah. Hal ini tentu tidak bisa terlepas dari sisi subjektivitas seorang sejarawan.

Setidaknya terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi keefektifan penulisan sejarah, yaitu pemihakan pribadi (personal bias) dan prasangka dari suatu kelompok (group prejudice). Perasaan suka atau tidak suka secara pribadi terhadap golongan tertentu di dalam peristiwa sejarah juga memiliki pengaruh dalam penulisan sejarah.

Sementara itu, group prejudice akan menghasilkan pandangan yang berbeda-beda terkait dengan suatu peristiwa sejarah. Perbedaan pandangan ini bisa berasal dari ras, bangsa, agama, golongan, dan lain-lain. Tiap sejarawan akan memiliki pandangan pribadi yang berbeda-beda dan bersifat subjektif.

Penelitian Sejarah

Untuk menggambarkan suatu peristiwa sejarah dengan benar, maka diperlukan sebuah penelitian. Langkah-langkah penelitian sejarah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :

Mencari Topik

Prinsip dasar ilmu sejarah juga tidak terlepas dari adanya penelitian terhadap peristiwa sejarah atau bersumber dari peninggalan yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk memastikan bahwa peristiwa sejarah tersebut benar-benar terjadi berdasarkan bukti dan peninggalan sejarah yang ada.

Penelitian sejarah ini terdiri dari lima langkah,  yaitu mencari topik, heuristik, verifikasi atau kritik, interpretasi, dan historiografi. Pencarian topik dilakukan untuk mengarahkan sebuah penelitian sejarah kepada hasil dari permasalahan yang ingin diketahui bagaimana fakta sejarahnya.

Heuristik

Setelah itu, berlanjut ke langkah heuristik atau pengumpulan data yang dibutuhkan. Untuk sumbernya bisa berupa sumber sejarah primer dan sekunder yang berkaitan dengan peristiwa masa lalu. Umumnya, para sejarawan melakukan studi kepustakaan, mengunjungi tempat-tempat bersejarah, dan melakukan wawancara dengan orang yang terlibat.

Verifikasi atau Kritik

Kemudian, masuk ke langkah verifikasi atau kritik. Verifikasi merupakan proses untuk memeriksa dan menguji data yang telah dikumpulkan sebelumnya.  Hal ini untuk menguji apakah laporan tersebut sesuai dengan peristiwa sejarah yang terjadi. Verifikasi terdiri dari dua aspek, yaitu ekstern dan intern.

Aspek ekstern yang berkaitan dengan prinsip dasar ilmu sejarah ini adalah pemeriksaan keaslian sumber sejarah. Dalam hal ini, sejarawan akan melakukan pengujian terhadap keakuratan dari data yang dikumpulkan. Pengujian ini meliputi waktu pembuatan dokumen, bahan, dokumen, atau materi dari dokumen.

Sementara itu, aspek intern membahas tentang isi dari sumber sejarah yang sudah dikumpulkan sebelumnya. Apakah isi dari sumber tersebut dapat memberikan informasi terkait dengan peristiwa sejarah yang terjadi atau tidak. Selain itu juga perlu dipastikan apakah isinya dapat dipercaya.

Interpretasi

Setelah melakukan verifikasi dan semuanya sudah terbukti, selanjutnya masuk ke langkah interpretasi atau menafsirkan fakta sejarah yang ada menjadi satu-kesatuan yang masuk akal. Dalam melakukan interpretasi, seorang sejarawan harus bersifat selektif, logis, dan deskriptif.

Historiografi

Historiografi ini menyajikan latar belakang, kronologi dari peristiwa sejarah, analisis terhadap sebab akibat, kemudian terdapat uraian yang mendalam terkait dengan hasil penelitian yang dilengkapi dengan dampak dan kesimpulan. Dengan demikian, pembaca bisa memahami naskah dari peristiwa sejarah.

Ternyata, suatu fakta sejarah yang sering dipelajari di bangku sekolah tidak disusun dengan begitu saja. Akan tetapi, banyak prinsip yang harus dipegang teguh oleh para sejarawan untuk menghasilkan naskah sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan dan diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan.