Daur Hidup Jangkrik

Seperti serangga yang memiliki metamorfosis tidak sempurna lainnya, daur hidup jangkrik hanya terdiri dari 3 tahap yaitu telur, stadium nimfa dan serangga dewasa. Lama daur hidup ini bervariasi tergantung dari jenis jangkrik serta masalah kondisi lingkungan. Masalah kondisi lingkungan ini justru dianggap sangat mempengaruhi seberapa lama serangga ini bisa bertahan hidup. Hal itulah mengapa jangkrik yang hidup di daerah subtropis yang memiliki empat musim bisa hidup sampai dua kali lebih lama dibandingkan yang ada di daerah tropis. Biasanya jangkrik pejantan yang hidup di Indonesia dapat bertahan sekitar 78 hari sedangkan jangkrik betina hidupnya dapat mencapai 105 hari.

Stadium di Dalam Daur Hidup Jangkrik

Seperti yang telah saya tulis diatas bahwa di dalam daur hidup jangkrik tidak terdapat stadium pupa. Sehingga hanya terdapat 3 stadium hidup didalam daur hidupnya, yaitu telur, nimfa dan serangga dewasa. Ada juga sebagian ahli biologi yang berpendapat antara stadium nimfa dan serangga dewasa ada stadium perantara yang disebut serangga remaja. Stadium serangga remaja ini didefinisikan apabila jangkrik sudah mulai tumbuh sayapnya tetapi belum sempurna. Akan tetapi dalam artikel ini saya akan memfokuskan pada pendapat yang mengatakan bahwa daur hidup jangkrik ada 3 fase saja.

1. Telur

Daur hidup jangkrik dimulai dari stadium telur. Telur ini bentuknya lonjong mirip seperti ulat, berwarna kuning muda bening dengan panjang sekitar 3 mm. Di salah satu ujung telurnya terdapat tonjolan yang disebut sebagai operculum. Operculum ini merupakan celah yang digunakan nimfa keluar dari telur tersebut. Nimfa tidak dapat keluar dari bagian telur lainnya, karena kulit telurnya yang sangat liat dan kuat.

Saat baru diletakkan oleh indukan betina, telur ini akan berwarna kuning muda yang cerah. Telur ini kemudian warnanya akan berubah menjadi semakin tua. Saat telah waktunya menetas, pada bagian telur akan terlihat garis-garis berwarna abu-abu.

Di habitat alaminya, jangkrik biasanya bertelur pada tanah atau pasir sedangkan di peternakan bisa juga menggunakan media kapas ataupun kain. Telur tersebut ditaruh di bawah media dengan kedalaman sekitar 5-15 mm menggunakan ovpositornya dan diletakkan secara berkelompok dengan jumlah sekitar 4 – 120 hari. Dalam waktu sekitar 13 hingga 25 hari setelah diletakkan di dalam tanah, telur akan menetas.

2. Nimfa

Setelah telur menetas, dari telur ini akan keluar jangkrik stadium nimfa. Bentuk stadium nimfa ini tidak berbeda jauh dengan saat serangga dewasa. Nimfa yang baru keluar ini akan memakan sisa-sisa cairan yang ada di cangkang telurnya. Setelah cairan telurnya habis, nimfa akan pergi berpencar untuk mencari makanan. Stadium nimfa yang baru keluar dari telur ini merupakan masa yang paling rawan di dalam daur hidup jangkrik. Penyebabnya dikarenakan gerakanya masih lamban serta belum memiliki eksoskeleton dibagian luar tubuhnya.

Dalam masa pertumbuhannya, stadium nimfa ini akan mengalami beberapa pergantian kulit untuk menuju dewasa. Pergantian kulit perlu dilakukan karena bagian luar tubuh jangkrik terdiri dari eksoskeleton yang keras dan tidak dapat berkembang. Sehingga agar tubuhnya bisa berkembang, ia harus melepaskan tubuh bagian dalamnya keluar dari eksoskeleton.

Proses pergantian kulit jangkrik ini berlangsung sangat cepat, hanya sekitar 15 menit saja. Ia akan mengontraksikan otot-otot yang ada di dalam tubuhnya agar bisa melepaskan eksoskeletonnya. Jangkrik yang telah berhasil melepaskan eksoskeletonnya ini akan berwarna putih pucat. Tidak menunggu waktu lama, dalam waktu sekitar 10 menit eksoskeleton akan tumbuh dan membuat tubuhnya kembali berwarna seperti biasanya. Setelah itu, jangkrik sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Mudahnya proses pergantian kulit pada jangkrik disebabkan karena eksoskeleton yang dimilikinya tidak terlalu keras dan tebal. Hal itu berbeda dengan serangga lain yang memiliki eksoskeleton yang keras dan tebal, dimana proses pergantian kulitnya bisa berlangsung lama dan berbahaya.

Pada saat pergantian kulit yang keempat, ovipositor pada jangkrik betina mulai muncul. Selain itu, sayap-sayapnya akan mulai berkembang di bagian thoraksnya. Biasanya hal ini terjadi pada saat umur jangkrik antara 21 hingga 25 hari. Setelah pergantian kulit yang kelima, barulah sayap jantan tumbuh dengan sempurna. Fase antara pergantian kulit ke 4 dan 5 inilah yang sering disebut sebagai stadium serangga remaja, dimana sayap mulai tumbuh tetapi belum sempurna.

3. Dewasa

Setelah sayap jangkrik tumbuh dengan sempurna maka hewan ini telah masuk ke dalam stadium dewasa. Biasanya setelah menjadi dewasa selama 7-15 hari, jangkrik sudah bisa melakukan aktivitas reproduksi. Masa reproduksi jangkrik ini biasanya berlangsung saat hewan ini berumur 45 – 60 hari. Saat masa reproduksi ini jangkrik akan bersifat agresif, perilaku kanibal mereka akan muncul pada waktu ini. Walaupun terdapat makanan yang melimpah, jangkrik akan saling membunuh dan memakan.

Indukan jantan akan mati setelah melakukan perkawinan, ia biasanya akan dimakan oleh jangkrik pasangannya. Sedangkan indukan betina akan bertelur setelah 10-13 hari dari waktu dia kawin. Setelah selesai bertelur, tidak berselang lama indukan betina ini akan mati. Telur ini akan menetas dalam waktu sekitar 13 – 25 hari sehingga daur hidup jangkrik akan kembali terulang dilanjutkan oleh keturunannya.

Ada hal menarik bagi jangkrik betina yang tidak mendapatkan pasangannya. Ia tetap akan bertelur, walaupun tanpa melakukan perkawinan. Telur ini bersifat steril sehingga tidak dapat menetas menjadi individu baru.