Categories: Hewan

Jangkrik

Siapa sih yang tidak tahu tentang jangkrik? Serangga yang memiliki suara yang kencang ini memiliki peranan penting bagi manusia. Suaranya yang kencang tersebut dapat menakut-nakuti tikus sehingga rumah yang ada jangkriknya biasanya bebas dari tikut. Akibat kemampuannya menakut-nakuti tikus tersebt, para petani banyak yang menyebar serangga ini ke sawah dengan harapan agar tikus menjauhi sawahnya dikarenakan adanya bunyi dari jangkrik ini.

Di Indonesia, jangkrik juga identik sebagai hewan aduan, hewan ini memang akan saling menggigit dan membunuh jika bertemu dengan sesamanya. Wajar saja jangkrik merupakan hewan teritorial dan kanibal, sehingga jika saling bertemu mereka akan saling membunuh. Perilaku inilah yang menyebabkannya menjadi sangat populer dijadikan hewan aduan, khususnya oleh anak-anak. Di negara eropa, seperti inggris, suara hewan ini dirumah dianggap dapat membawa keberuntungan bagi penghuni rumahnya. Di negara-negara Asia Timur seperti Jepang dan Cina, jangkrik juga banyak dipelihara karena suaranya dianggap merdu dan indah untuk dinikmati.

Klasifikasi Jangkrik

Dalam taksonomi hewan, jangkrik dimasukkan ke dalam famili Gryllidae yang merupakan anggota ordo Orthoptera. Di dalam famili ini terdapat sekitar 900 spesies yang terbagi ke dalam 21 genus. Menurut ahli biologi alumni UGM, Pratama Adi, di Indonesia terdapat sekitar 123 spesies jangkrik yang tersebar di seluruh nusantara. Dari 123 spesies itu, yang paling banyak ditemukan adalah spesies Gryllus bimaculatus. Spesies ini lebih dikenal dengan nama jangkrik jawa, ia sering dibudidayakan oleh manusia untuk digunakan sebagai pakan hewan peliharaan seperti burung dan ikan arwana.

Klasifikasi Jangkrik secara lengkap adalah sebagai berikut :

Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Orthoptera
Subordo : Ensifera
Super famili : Ensifera
Famili : Gryllidae

Morfologi

Seperti yang telah kita bahas diatas, jangkrik termasuk ke dalam ordo Orthoptera. Anggota ordo ini memiliki ciri-ciri pada sayapnya yang lurus. Sayapnya ini juga digunakan untuk membedakannya dengan jangkrik gua (Ceuthophilus sp). Walaupun memiliki nama yang mirip, spesies yang termasuk ke dalam famili Rhaphiodophoridae ini tidak memiliki sayap sehingga dikelompokkan dalam taksonomi yang berbeda.

Secara umum morfologi dari berbagai jenis jangkrik hampir sama, yang memedakan biasanya adalah masalah kuran dan warnanya. Seperti serangga lainnya, tubuh jangkrik dapat dibedakan menjadi 3 bagian yaitu, kepala, thoraks dan abdhomen. Pada kepalanya terdapat tiga buah mata, sepasang antena, satu mulut dan dua pasang sungut. Tiga buah mata yang dimilikinya terdiri dari satu mata tunggal yang berfungsi sebagai sensor cahaya dan dua buah matajemuk yang digunakan sebagai sensor gerakan. Ketiga mata ini tersusu dalam bentuk segitiga. Antena yang ada di kepalanya merupakan sensor yang digunakan untuk mendeteksi sentuhan, pergerakan udara, suhu dan getara. Sedangkan dua buah sungut yang dimilikinya berfungsi sebagai indra penciuman.

Bagian dada (thoraks) menjadi tempat melekatnya tiga pasang kaki dan dua pasang sayap. Sepasang kaki belakangnya berukuran lebih besar dan panjang, disini juga terdapat banyak otot dikarenakan kaki ini digunakan untuk melompat. Abdomen (perut) pada jangkrik berisi beragai sistem organ, seperti organ pencernaan, pernafasan dan reproduksi. Pada ujung abdomennya terdapat sepasang cerci yang digunakan sebagai sensor untuk mendetekksi gerakan atau bahaya yang datang dari belakang. Ovipositor ini hanya terdapat pada betina dewasa karena organ ini digunakan untuk meletakkan telur yang dikeluarkannya. Selain dilihat dari ovipositornya, biasanya ukuran jangkrik jantan lebih besar daripada betina. Hanya ukuran ini tidak dapat dijadikan patokan, apalagi jika kita tidak tahu berapa umur jangkrik yang akan kita identifikasi. Bisa saja si betina berukuran lebih besar karena umurnya lebih tua.

Habitat

Jangkrik merupakan serangga malam yang dapat ditemukan hidup di habitat persawahan, perkebunan, hutan dan di banyak tempat lainnya. Habitat tempat ia hidup ini haruslah memiliki suhu antara 20 – 32° C dan kelembapan antara 65-75%. Diluar kondisi lingkungan tersebut hewan ini tidak dapat tumbuh dengan baik atau bahkan karena kondisi habitatnya tidak cocok ia akan mati. Kondisi optimum untuk pertumbuhan jangkrik biasanya terjadi pada bulan juni-juli dan november-desember. Oleh karena itu, di keempat bulan tersebut biasanya serangga ini lebih mudah ditmeukan.

Makanan utama jangkrik adalah saur-sayuran, seperti sawi, daun singkong dan jenis sayuran hijau lainnya yang tumbuh di habitatnya. Hewan ini lebih menyukai memakan tanaman muda, sehingga seringkali ia terlihat memakan pucuk tanaman ataupun daun yang berukuran kecil. Selain memakan tumbuhan, hewan ini juga seringkali memakan serangga lain dan bahkan ia juga akan memakan sesamanya (Kanibal).

Pada saat memasuki musim penghujan, kita sering mendengarkan suara jangkrik di lingkungan sekitar kita. Di lingkungan pedesaan yang masih terdapat banyak pepohonan, suara itu hampir terdengar dimana-mana. Suara jangkrik tersebut sesungguhnya merupakan bentuk komunikasi antara jangkrik jantan yang memanggil betina. Hal itu dikarenakan pada awal musim hujan menjadi waktu berkembang biak hewan ini.

Daur Hidup Jangkrik

Jangkrik merupakan serangga yang mengalami metamorfosis tidak sempurna. Sehingga antara fase anakan (nimfa) tidak memiliki perbedaan yang mencolok dibandingkan fase dewasanya. Selain itu seperti serangga yang mengalami metamorfosis tidak sempurna lainnya, pada daur hidup jangkrik tidak mengalami yang dinamakan fase pupa (kepompong).

Related Post

Jangkrik yang hidup di daerah tropis memiliki daur hidup yang berbeda jika dibandingkan dengan daerah yang mengalami empat pergantian musim. Jangkrik yang hidup di daerah tropis akan mati setelah bertelur di dalam tanah yang jumlahnya cukup banyak, sedangkan yang hidunya di daerah yang mengalami empat pergantian musim dapat hidup hampir selama setahun.

Secara singkat daur hidupnya terdiri dari telur menetas setelah 13-14 hari. Kemudian akan memasuki fase nimfa yang berlangsung selama 6 hari. Setelah itu, pada hari ke 21 masa hidupnya akan mulai muncul sayap pada bagian thoraksnya. Munculnya sayap ini juga menandakan bahwa jangkrik telah memasuki fase serangga muda. Fase serangga muda ini berlangsung selama 20 hari, yang kemudian akan menjadi serangga dewasa. Serangga dewasa dicirikan telah mengalami sayap dengan struktur yang sempurna sehingga ia telah bisa terbang. Pada hari ke 61 sampai 80, jangkrik akan memasuki periode birahi sehingga akan mencari pasangannya untuk bisa berkembang biak. Setelah itu indukan betina akan bertelur dan kemudian akan mati, indukan jantna biasanya akan mati setelah melakukan perkawinan.

Jenis Jangkrik di Indonesia

Seperti yang telah saya sebutkan diatas bahwa jenis jangkrik yang terdapat di Indonesia jumlahnya sekitar 123 spesies. Masing-masing spesies ini basanya dibedakan dari warna tubuh dan sedikit variasi lainnya. Dari 123 spesies yang ada di Indonesia, beberapa dapat dengan mudah ditemukan di sekitar. Berikut ini adalah jenis jangkrik yang banyak di temukan di Indonesia.

1. Jangkik Rumah (Acheta domesticus)

Sesuai dengan namanya, Spesies ini paling mudah ditemukan di sekitar rumah kita. Ia merupakan hewan yang asalnya dari timur tengah, tetapi pada sekitar tahun 1950 telah menjadi serangga yang dibudidayakan dengan tujuan untuk pakan ternak. Tubuh hewan ini biasanya berwarna abu-abu atau kecokelatan dengan panjang sekitar 16 – 21 milimeter. Antara pejantan dan betina memiliki bentuk dan ukuran tubuh yang hampir sama. Perbedaan keduanya yang paling mencolok adalah pada ovipositor yang ada di bagian belakang abdomen betina yang panjangnya sekitar 12 milimeter. Walaupun tidak terlihat terlalu mencolok, cerci pada pejantan biasanya lebih mencolok.

Walaupun bukan serangga yang berasal dari dalam negeri, banyak peternak yang menyukai spesies ini. Ia dianggap lebih produktif dan dapat dipanen dalam waktu 28 hari saja. Selain itu, bentuk tubuhnya memang relatif besar jika dibandingkan jenis jangkrik lainnya sehingga sangat cocok digunakan sebagai pakan burung dan ikan predator. Kapasitas produksi telurnya juga cukup baek, setiap indukan betina dapat menghasilkan 100 butir telur.

2. Jangkrik Kalung (Gryllus bimaculatus)

Spesies ini merupakan serangga yang berasal dari Indonesia. Ia memiliki kulit dan sayap yang berwarna hitan atau terkadang ada yang agak kemerahan. Selain itu, pada bagian punggunya terdapat garis kuning seperti kalung. Spesies ini juga sudah mulai banyak dibudidayakan oleh para peternak di Indonesia. Hal tu disebabakan kemampuan produksinya yang lumayan baik, ia dapat dipanen dalam waktu sekitar 25 hari. Apalagi, setiap induk betina dapat menghasilkan telur sebanyak 300 butir.

Hanya saja, jangkrik kalung memiliki sifat yang terlalu agresif sehingga seringkali terjadi pertarungan yang menyebabkan kematian jika ditaruh di kandang berukuran kecil. Selain itu, spesies ini memiliki toleransi terhadap kondisi perubahan lingkungan yang rendah. Seringkali terjadi banyak kematian saat dilakukan pengiriman dari peternak ke distributor ataupun penjual. Kekurangan lain dari spesies ini adalah kurang disukai burung karena kandungan air didalam tubuhnya terlalu banyak.

3. Jangkrik Seliring (Teleogryllus mitratus)

Jenis jangkrik ini banyak dibudidayakan di daerah jawa timur. Seluruh tubuhnya termasuk sayap, berwarna hitam kecokelatan. Pada saat fase nimfa di bagian punggungnya terdapat garis kuning seperti yang ada pada jangkrik kalung, tetapi setelah menjadi serangga dewasa garis ini akan menghilang. Spesies ini jarang dibudidayakan karena waktu panennya yang cukup lama yaitu sekitar 40 hari. Walau begitu, waktu panennya yang lama ini sebanding dengan harga jualnya yang relatif lebih mahal. Hal tersebut dikarenakan spesies ini sangat disukai oleh burung kicau karena tubuhnya tidak mengandung banyak air, mengandung protein tinggi dan ukuran tubuhnya yang sedang sehingga mudah dikunyah oleh burung.

4. Jangkrik Gangsir (Brachytrupes portentosus)

Jenis jangkrik ini banyak ditemukan secara alami di hutan ataupun kebun di daerah pedesaan. Ia memiliki tubuh yang berukuran besar dan berwarna hitam semu abu-abu. Spesies ini jarang dibudidayakan karena mudah stress dan mati, apalagi ia juga tidak memiliki suara mengerik yang bagus (kurang berirama). Spesies ini juga tidak baik diberikan sebagai pakan, karena di dalam tubuhnya terdapat zat racun yang dapat membuat burung ataupun ikan yang memakannya menjadi keracunan dan mati.

5. Xenogryllus marmoratus

Jangkrik ini bukanlah spesies yang dibudidayakan manusia. Ia merupakan spesies liar yang banyak terdapat di daerah padang rumput. Seluruh tubuhnya (termasuk sayap dan kakinya) berwarna cokelat. Ia jarang mengeluarkan bunyi, jikapun bersuara biasanya tanpa irama dan kurang kencang. Spesies ini di Indonesia banyak ditemukan di daerah Nusa Tenggara.

6. Jangkrik Ladang (Gryllus campestris)

Spesies ini sebenarnya merupakan serangga yang berasal dari kepualauan Inggris, tetapi telah tersebar hampir ke seluruh dunia bersamaan dengan penjelajahan yang dilakukan oleh orang-orang ingrris di masa lampau. Tubuhnya berukuran besar berwarna hitam dengan sayap yang berwarna cokelat atau hitam kecokelatan. Panjang tubuh serangga jantan sekitar 1,9 – 2,3 cm sedangkan betina dewasa sekitar 1,7 sampai 2,2 cm.

Walau pernah tersebar ke seluruh dunia sebagai spesies invasif, jenis jangkrik ini populasinya sat ini sudah sangat berkurang. Bahkan di habitat aslinya di inggris raya, populasinya sudah hampir punah. Begitu pula di negara-negara eropa lainnya seperti Jerman, belanda, Belgia, Denmark dan Lithuania. Berkurangnya populasi serangga ini diakibatkan karena hilangnya habitat yang ada di negara-negara eropa. Bahkan diperkirakan populasinya di negara-negara asia seperti Cina, justru lebih banyak dibanding di habitat aslinya di Inggris.