Cara Memperbanyak Bunga Krisan

Cara memperbanyak bunga krisan dapat dilakukan secara generatif dan vegetatif. Perbanyakan generatif dengan biji akan menghasilkan keturunan yang berbeda dengan induknya karena terjadi pemecahan sifat (segregasi). Cara memperbanyak bunga krisan ini pada umumnya dilakukan dalam pemuliaan tanaman (plant breeding) untuk menghasilkan varietas atau kultivar baru.

Perbanyakan vegetatif dengan anakan, stek pucuk dan kultur jaringan dapat menghasilkan keturunan yang sama dengan sifat-sifat induknya. Perbanyakan tanaman krisan tipe standar dengan anakan, secara fisiologi umur anakan yang diambil dari kebun produksi kurang seragam.Hal ini berpengaruh pada masa pembungaannya yang kurang serempak dalam suatu areal pertanaman.

Cara memperbanyak bunga krisan untuk skala komersial pada umumnya dilakukan dengan cara stek pucuk dan kultur jaringan. Bahkan perbanyakan dengan kultur jaringan, selain untuk mendapatkan bibit tanaman dalam jumlah banyak dan waktu relatif singkat, juga memproduksi bibit yang bebas penyakit.

Indonesia Masih Tergantung Bibit Krisan Impor

Budidaya bunga krisan di Indonesia, dihadapkan pada ketergantungan benih dari luar negeri, seperti Jerman, Amerika Serikat dan jepang. Bila tanaman krisan dari luar negeri tersebut diperbanyak, petani kita perlu membayar royalti 10% dari harga jual tiap tangkai bunga. Kondisi tersebut menyebabkan harga jual benih menjadi tinggi dan menurunkan keuntungan para petani pengusaha tanaman krisan. Introduksi teknologi pembenihan krisan diawali sejak tahun 2006.

Sebagai salah satu alternatif dalam usaha pengadaan benih krisan secara konvensional melalui perbanyakan vegetatif dengan cara memisahkan anakan, stek pucuk dan kultur jaringan. Sehingga bibit yang dihasilkan genotipenya telah diketahui dan dapat dibuat dalam waktu yang singkat.

Penyediaan materi induk (tanaman induka) dapat dilakukan oleh pemilik varietas atau Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi), Perguruan Tinggi atau lembaga dan perusahaan yang sudah terakreditasi. Turunan benih atau bibit ini merupakan benih sumber dengan kualitas sesuai standar mutu yang telah ditetapkan. Pelaksanaan produksi benih sumber dilakukan oleh Balithi atau perusahaan swasta, kemudian turunan dari benih sumber dapat langsung menjadi benih sebar.

Akan tetapi apabila dalam cara budidaya atau pemeliharaan dilakukan secara intensif sesuai standar mutu benih sumber, maka perbanyakan benih tersebut masih bisa menjadi benih sumber lagi. Untuk memproduksi benih sumber maupun benih sebar wajib diawasi oleh petugas Pengawas Benih Tanaman atau BPSBTPH setempat, kecuali bagi perusahaan yang sudah mempunyai sertifikat sertifikasi sistem mutu.

Ketersediaan benih atau bibit krisan secara tepat jenis, jumlah, kualitas dan distribusinya merupakan aspek yang sangat strategis untuk dilakukan secara terintegrasi oleh berbagai pihak terkait. Prosedur penyiapan bibit krisan pada skala komersial dilakukan dengan dua tahap, yaitu stok tanaman induk dan perbanyakan vegetatif tanaman induk. Stok tanaman induk dimaksudkan untuk memproduksi bibit krisan yang berkualitas dan dalam jumlah banyak secara kontinu di kebun induk sebagai tempat tanaman induk krisan yang dipelihara secara khusus untuk memproduksi stek.

Bahan tanam untuk tanaman induk dapat berupa stek berakar hasil perbanyakan konvensional atau tanaman yang sudah di aklimatisasi hasil perbanyakan vegetatif secara kultur jaringan. Berdasarkan fungsinya sebagai penghasil stek maka tanaman induk dipelihara selalu dalam keadaan vegetatif aktif dengan penyinaran tambahan sehingga tanaman tidak produktif. Fungsi stok tanaman induk pada prinsipnya untuk memproduksi stek sebanyak mungkin sebagai bahan tanaman (bibit). Bahan tanaman tersebut ditanam di area terpisah dari areal budidaya.

Budidaya Tanaman Induk Untuk Produksi Bibit

Budidaya tanaman induk meliputi kegiatan pemilihan lokasi pembibitan, membangun rumah lindung, penyediaan sarana penunjang pembibitan dan pelaksanaan budidaya tanaman induk krisan. Pemilihan lokasi kebun induk disesuaikan dengan syarat tumbuh bunga krisan.

Jenis tanah yang mendukung pertumbuhan tanaman induk krisan adalah :

  1. Tanah yang bertekstur liat, berpasir subur, aerasi dan drainasenya baik.
  2. Minim Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).
  3. Memiliki pH berkisar 5,5-6,5/
  4. Kemiringan lahan atau elevasi sebaiknya kurang dari 10%.
  5. Memiliki suhu lingkungan berkisar 15-28º C.
  6. Kelembaban udara (rH) 60-855.
  7. Lokasi pembibitan krisan harus bebas dari cemaran bahan kimia berbahaya.

Bangunan lindung berupa rumah plastik berfungsi untuk menjaga pertumbuhan tanaman krisan secara optimal, melindungi tanaman dari curah hujan dan sinar matahari langsung yang tidak menguntungkan. Rumah lindung dapat dibuat dengan luasan tanah, arah angin, bebas dari naungan, sirkulasi udara cukup, jaringan listrik terjangkau dengan irigasi tersedia dan dilengkapi saluran drainase. Sarana penunjang untuk pembibitan yang penting diperhatikan adalah sarana irigasi dan instalasi pencahayaan. Sarana irigasi meliputi bak penampungan, jaringan distribusi air primer dan sekunder yang masuk ke setiap bedengan dan saluran pemberian air. pemasangan instalasi pencahayaan dalam rumah lindung berfungsi untuk memfasilitasi penambahan cahaya pada tanaman induk dan bibit krisan. Sarana pencahayaan tanaman diberikan sesuai kebutuhan untuk memelihara tanaman induk dan memproduksi stek pucuk krisan.

Jumlah stok tanaman induk disesuaikan dengan kebutuhan bibit yang telah direncanakan. Tiap tanaman induk dapat digunakan untuk memperbanyak bunga krisan sebesar 10 stek/bulan dan selama 4-6 bulan dipelihara dapat memproduksi sekitar 40 -60 stek pucuk. Pemeliharaan bibit dilakukan pada kondisi lingkungan berhari panjang dengan penambahan cahaya 4 jam/hari mulai pukul 23.30-03.00 dengan lampu pencahayaan dapat dipilih Glow Lux SL 18 Philips. Cara memperbanyak tanaman induk krisan secara vegetatif dapat dilakukan dengan pemangkasan pucuk pada umur 2 minggu setelah bibit ditanam dengan cara memangkas atau memotong pucuk yang sudah tumbuh sepanjang 0,5 – 1 cm.

Selanjutnya, penumbuhan cabang primer dengan perlakuan pinching untuk merangsang pertumbuhan tunas ketiak sebanyak 2-4 tunas. Tunas ketiak daun dibiarkan tumbuh sepanjang 15 – 20 cm atau disebut cabang primer. Untuk pertumbuhan cabang sekunder dilakukan dengan cara pemangkasan pucuk pada tiap ujung primer sepanjang 0,5 – 1 cm,kemudian dipelihara tiap cabang sekunder hingga tumbuh sepanjang 10 – 15 cm. Tanaman induk krisan selalu dipelihara dalam fase juvenil agar stek pucuk yang dihasilkan memiliki potensi pertumbuhan vegetatif yang maksimum.

Cara Memperbanyak Bunga Krisan

Cara memperbanyak bunga krisan secara vegetatif dapat dilakukan dengan stek pucuk dan kultur jaringan. Dalam memperbanyak bunga krisan tersebut, bahan yang digunakan berupa stek pucuk berakar sebagai benih sumber.

Cara Memperbanyak Bunga Krisan dengan Stek Pucuk

Stek pucuk pada prinsipnya merupakan potongan-potongan bagian pucuk tanaman induk. Tata cara memperbanyak bunga krisan melalui stek pucuk, meliputi tahap-tahapan berikut ini :

  1. Pilih atau tentukan tanaman induk krisan yang sehat, cukup umur dan berasal dari varietas unggul.
  2. Pilih tunas pucuk yang sehat, berdiameter pangkal 3-5 mm, panjang 5 cm dan mempunyai 3 helai daun dewasa berwarna hijau terang.
  3. Potong pucuk tersebut dengan menggunakan silet atau pisau yang steril dan tajam, dengan ukuran panjang pucuk yang dipotong 7 cm. Pangkas atau buang sebagian atau seluruh daun yang berada pada pucuk tersebut untuk mengurangi penguapan berlebihan.
  4. Rendam stek pucuk dalam larutan zat pengatur tumbuh Rootone F selama 5 menit. Larutan tersebut berfungsi untuk mempercepat pertumbuhan akar.
  5. Siapkan media semai berupa pasir yang sudah steril. Media semai tersebut dimasukkan ke dalam pot atau bak semai yang bagian bawahnya dilubangi untuk menghindari jumlah air yang berlebihan.
  6. Semai stek pucuk dengan jarak 3 x 3 cm dan kedalaman 1-2 cm, kemudian tutup dengan plastik bening dan tempatkan di dalam ruangan.
  7. Pemeliharaan bibit asal stek pucuk meliputi penyiraman dengan sprayer 2-3 kali sehari, memasang bola lampu untuk pertumbuhan vegetatif dan penyemprotan pestisida apabila tanaman diserang hama atau penyakit. Bukalah sungkup persemaian pada sore dan malam hari, terutama pada beberapa hari sebelum pindah ke lapangan (kebun).

Bibit krisan yang dihasilkan dari perbanyakan stek ini dapat dipindah tanam ke kebun (lapangan) pada umur 10-14 hari setelah semai, atau tergantung kebutuhan. Cara memperbanyak bunga krisan ini merupakan yang termudah dan dapat menghasilkan bibit yang memiliki sifat sama dengan induknya. Sayangnya dari segi jumlah, cara perbanyakan dengan stek ini tidak bisa menghasilkan bibit dalam jumlah besar kecuali tanaman induknya besar pula jumlahnya.

Cara Memperbanyak Bunga Krisan dengan Kultur Jaringan

Kultur jaringan merupakan suatu metode untuk merangsang jaringan-jaringan biji (generatif) atau jaringan-jaringan batang, daun, tunas dan akar (vegetatif) dengan menempatkan jaringan-jaringan tersebut dalam media semai khusus yang berupa padatan atau cairan yang sudah disterilkan, sehingga terbebas dari mikroorganisme. Cara memperbanyak bunga krisan dengan kultur jaringan dianggap lebih efektif daripada stek. Hal itu dikarenakan bibit yang dihasilkan dapat berjumlah sangat banyak dengan jumlah tanaman induk yang terbatas.

Tata cara memperbanyak tanaman bunga krisan dengan kultur jaringan, meliputi langkah kerja sebagai berikut :

  1. Tentukan atau pilih mata tunas atau eksplan yang sehat dan berasal dari varietas unggul. mata tunas tersebut kemudian diambil secara hati-hari dengan pisau silat yang steril.
  2. Sterilisasi mata tunas dengan sublimat 0,04% (HgCl) selama 10 menit, kemudian bilas dengan air suling steril.
  3. Siapkan media semai Murashige and Skoog (MS) berbentuk padat yang dicampur dengan 150 ml air kelapa/liter, 1,5 mg kinetin/liter dan 0,5 mg NAA/liter di dalam sebuah wadah yang steril, biasanya wadah yang digunakan adalah botol.
  4. Masukkan mata tunas tadi ke dalam media. Mata tunas mulai berakar setelah 26 hari ditempatkan di media.
  5. Pindahkan bibit ke bak semai yang telah diisi media pasir yang sudah steril dengan jarak 3 x 3 cm.
  6. Tutup dengan plastik bening agar mendapatkan cahaya lampu dan simpan di tempat yang terbebas dari mikroorganisme (aseptis).
  7. Buka penutup plastik bening pada sore dan malam hari sekitar 1-2 hari sebelum bibit dipindahkan ke kebun.
  8. Bibit krisan hasil perbanyakan kultur jaringan dapat dipindah tanam ke kebun (lapangan) ketika sudah berdaun 5-7 helai dan setinggi 7,5 – 10 cm.

Panen bibit krisan dilakukan dengan cara mencabut bibit yang sudah berakar dan layak dipanen. Selanjutnya, bibit disortasi dan kemudian dikemas dalam plastik yang telah ilubangi dan diberi sekam bakar untuk menjaga kelembaban serta kesegaran bibit. Plastik yang digunakan untuk mengemas bibit krisan biasanya berkapasitas 25 tanaman dan 50 tanaman, tergantung dari permintaan pemesan. Bibit yang telah dimasukkan ke dalam plastik, dikemas kembali menggunakan kardus untuk mencegah kerusakan bibit.

Itulah cara memperbanyak bunga krisan yang bisa dilakukan untuk skala produksi bibit untuk keperluan budidaya. Walaupun tidak begitu sulit, tetapi prospek penjualan bibit krisan ini sangatlah bagus karena banyaknya permintaan akan bunga potong ini.