Bunga Krisan

Bunga krisan atau dalam nama latin disebut sebagai Chrysanthemum,merupakan tanaman florikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan sangat prospektif untuk dikembangkan secara komersial dalam skala industri bunga. Permintaan pasar akan bunga krisan juga cukup tinggi dan beragam. Banyak orang yang menggunakan bunga ini sebagai karangan bunga, dekorasi pernikahan, tanaman hias pot dan lain sebagainya.

Keunggulan krisan terletak pada masa tanam yang singkat, harga yang stabil dan memiliki keanekaragaman warna dan bentuk bunga. Selain itu, sebagai bunga potong ia bisa tahan lebih dari 2 minggu di vas.

Oleh sebab itu, kita perlu mengenal lebih dekat dengan tanaman bunga krisan ini sehingga dapat bermakna bagi upaya pemanfaatan, pengembangan dan pelestarian flora ini. Pada artikel berikut ini saya akan membahas mengenai nama latin, ciri-ciri dan syarat tumbuh dari bunga krisan.

Nama Latin Bunga Krisan

Bunga krisan memiliki nama latin Chrysanthemum, itu merupakan salah satu genus dari famili Asteraceae. Dalam taksonomi tanaman, klasifikasi bunga krisan adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae (Tumbuh-tumbuhan)
Divisi : Spermatophyta (Tumbuhan berbiji)
Subdivisi : Angiospermae (Berbiji tertutup)
Kelas ; Dicotyledonae (Biji berkeping dua)
Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae
Genus : Chrysanthemum
Spesies : Chrysanthemum morifolium, C. inicum, C. daisy dan lain sebagainya.

Nama lain krisan disebut juga sebagai bunga seruni (Indonesia), ye ju hua (Tiongkok) dan Manzanilla (Filipina). Jenis bunga krisan ada beraneka ragam (spesies) diantaranya C. daisy, C. indicum, C. frutescens (marguerite), C. parthenium, C.maximum, C. coccineum dan C. hornorum. Di Sulawesi Utara, dikenal seruni walanda (C.indicum)dengan varian seruni walanda beureum (merah), seruni waranda bodas (putih), seruni walanda tembaga (coklat) dan seruni walanda kuning.

Ciri-Ciri Bunga Krisan

Ciri-Ciri bunga krisan yang paling utama dapat dilihat dari bentuk daunnya, yaitu bagian tepi dari daun memiliki celah dan bergerigi yang tersusun dengan berselang seling pada batang.

Krisan tumbuh menyemak dengan daur hidup sebagai tanaman semusim (annual) ataupun tahunan (perennial). Tanaman ini bersifat semak yang di habitat aslinya dapat tumbuh mencapai ketinggian 30 – 200 cm. Penampilan visual sosok tanaman krisan mirip dengan aster.

Untuk lebih mengetahui tentang ciri-ciri tanaman bunga krisan, kita bisa melihatnya dari morfologi akar, batang, daun, bunga, buah dan biji. Berikut ini akan saya membahas secara singkat tentang beberapa hal di atas.

Morfologi Akar

Tanaman krisan memiliki akar tunggang dan serabut yang rentan mengalami kerusakan akibat dari lingkungan yang kurang baik. Misalnya saja ketika drainase tanah jelek atau tanah terlalu asam, akarnya akan cepat membusuk dan akhirnya akan mengganggu pertumbuhannya. Perakaran ini biasanya dapat tumbuh dan masuk hingga kedalaman 30 – 40 cm dari permukaan tanah dan menyebar ke semua arah.

Morfologi Batang dan Daun

batang tanaman krisan memiliki tekstur yang lunak, bentuk bulan , tumbuh tegak, permukaan kasar dan berwarna hijau. Daun krisan tersusun berselang-seling pada batang dan cabang. Daun-daunnya memiliki bagian tepi yang bergerigi dan bercelah dengan tulang daun menyirip. Daun bentuknya lonjong yang dilengkapi dengan pangkal yang membulat dan ujung yang meruncing. Pandan daun krisan sekitar 7 – 1 cm dan lebarnya 3 – 6 cm.

Morfologi Bunga Krisan

Bunga krisan tumbuh pada ujung batang atau percabangan dan tersusun dalam tangkai berukuran pendek sampai panjang. Bunga krisan tumbuh tegak di bagian batangnya yang lunak dan berwarna hijau. Ia memiliki petal bunga berjumlah banyak yang tersusun membentuk lingkaran, dengan malai datar dengan dasar bunga melebar. Tanaman ini memiliki warna bunga yang sangat bervariasi, misalnya saja biru, kuning, putih, merah, ungu, hitam dan lain sebagainya.

Bunga krisan biasanya dikelompokkan kedalam delapan tipe, yaitu singles atau daisy, spoon, anemones, spider, pompons,dekoratif, large flowered dan fleurette. Sedangkan di dalam agribisnis, bunganya dikelompokkan berdasarkan jumlah bunga yang dipelihara dalam satu tangkai, yaitu tipe standar dan spray.

Tipe standar (disburden inflorescence) hanya memiliki satu tunas bunga, yaitu tunas terminal yang dipelihara pada satu batang. Tunas bunga lateral dibuang, sehingga dihasilkan satu bunga dengan ukuran yang besar. Tipe spray (spray inflorescence) merupakan tipe dengan seluruh tunas bunga lateral yang dibiarkan berkembang, tetapi bunga yang pertama berkembang dibuang agar lebih banyak tunas lateral yang tumbuh dan berukuran kecil.

Di kalangan floriskulturis juga membedakan bentuk bunga krisan dalam lima kelompok, yaitu bunga tunggal, anemone, pompon,dekoratif dan bunga besar. Ciri-ciri bunga krisan tunggal ditandai dengan setiap tangkai terdapat 1 kuntum bunga, piringan dasar bunga sempit dan susunan mahkota bunga hanya satu lapis. Bentuk bunga anemone mirip dengan bunga tunggal, tetapi piringan dasar bunganya lebar dan tebal. Bentuk bunga pompom bulat seperti bola, mahkota bunga menyebar ke semua arah dan piringan dasar bunganya tidak tampak.

Bunga berbentuk dekoratif mirip seperti pompon, tetapi mahkota bunganya bertumpuk rapat, di tengah pendek dan bagian tepi memanjang. Bunga besar ditandai dengan setiap tangkai terdapat satu kuntum bunga, berukuran besar dengan diameter lebih dari 10 cm. Piringan dasar tidak tampak, mahkota bunganya memiliki banyak variasi, antara lain melekuk ke dalam atau luar, pipih, panjang, bentuk sendok dan lain-lain.

Morfologi Buah

Bunga krisan dapat menyerbuk sendiri (self pollination) dan juga silang (cross pollination), sehingga menghasilkan buah. Buah krisan bentuknya lonjong dan berukuran kecil,serta ditutupi oleh selaput buah. Buah yang masih muda berwarna putih dan setelah tua akan berubah menjadi hitam. Buah krisan merupakan hasil penyerbukan dari bunga jantan dan betina, sehingga di dalamnya akan berisi banyak sekali biji. Biji berukuran sangat kecil dengan bentuk lonjong dan berwarna coklat sampai hitam. Biji dapat digunakan bahan untuk cara memperbanyak bunga krisan secara generatif.

Syarat Tumbuh Bunga Krisan

Tanaman krisan dapat tumbuh dan produktif berbunga di daerah dataran tinggi yang mempunyai ketinggian antara 700 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut. Kondisi agroekologi yang penting diperhatikan dalam menentukan syarat tumbuh tanaman bunga krisan adalah faktor iklim dan tanah atau media tanamnya.

Faktor Iklim

Unsur iklim yang mempengaruhi pertumbuhan dan pembungaan tanaman krisan adalah suhu,kelembapan udara, sinar matahari, curah hujan dan karbondioksida (CO). Toleransi tanaman krisan terhadap suhu udara untuk tetap tumbuh dengan baik pada kisaran 17-30º C. Pertumbuhan tanaman krisan yang paling optimal terjadi pada suhu 20-28º C, sedangkan agar dapat berbunga ia membutuhkan suhu udara sekitar 15-20º C. Suhu udara berpengaruh langsung terhadap pembungaan bunga krisan, suhu udara yang tinggi atau diatas 18º C akan menyebabkan bunganya cenderung berwarna kusam. Sedangkan pada suhu udara di bawah 16º C bunganya akan berwarna lebih cerah.

Selain suhu udara, tanaman krisan juga membutuhkan kelembapan udara yang tinggi, sekitar rH 70-80% dan diimbangi dengan sirkulasi udara yang baik. Bila kelembaban udara tinggi, sedangkan sirkulasi udaranya jelek dapat menyebabkan tanaman terkena penyakit, terutama cendawan yang mudah berkembang. Hujan deras atau keadaan curah hujan tinggi menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tanaman mudah roboh, rusak dan kualitas bunganya rendah. Oleh karena itu, pembudidayaan krisan di daerah yang bercurah hujan tinggi dapat dilakukan di dalam bangunan rumah plastik dan rumah kaca.

Krisan termasuk tanaman yang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan cahaya (fotoperiodisitas) baik dalam fase pertumbuhan maupun fase pembungaan. Pada pertumbuhan vegetatif, tanaman krisan memerlukan ketersediaan cahaya sebanyak 14-16 jam/hari, sedangkan untuk fase generatif, khususnya pembungaan diperlukan sinar matahari <12 jam/hari.

Pertumbuhan tanaman krisan dapat dipacu dengan penambahan cahaya buatan yang berasal dari lampu pijar atau fluorescent (TL). Jika digunakan lampu buatan yang berasal dari lampu pijar, maka intensitas cahaya daerah tergelap minimal 70 lux. Jika menggunakan lampu TL, minimal 40 lu. Pada kondisi tersebut, daya lampu minimal yang diperlukan adalah 100 watt lampu pijar atau 40 watt lampu TL. Pemberian cahaya tambahan tersebut pada umumnya dilakukan mulai pukul 19.00 hingga 04.00 dengan cara intermittent lighting, yaitu menyala 10 menit dan padam 20 menit yang dilakukan berulang-ulang.

Syarat tumbuh bunga krisan lain yang perlu diperhatikan adalah kadar CO2. Kadar CO2 ini memegang peranan penting dalam pertumbuhan tanaman ini. Kadar CO2 di alam sekitar 3.000 ppm, sementara kadar CO2 yang ideal dan dianjurkan untuk memacu kemampuan fotosintesis tanaman krisan adalah antara 600 – 900 ppm. Oleh karena itu pada pembudiidayaan tanaman krisan dalam ruangan tertutup biasanya hasilnya jauh lebih bagus dibandingkan yang secara terbuka.

Faktor Tanah atau Media Tanam

Krisan dapat tumbuh pada setiap jenis tanah yang digunakan pertanian, tergantung penanganan. Tanah yang ideal untuk tanaman krisan memenuhi kriteria bertekstur lempung berpasir, subur, gembur, kandungan air 50-70%,kandungan udara dalam pori 10-20%,mempunyai drainase dan aerasi yang baik dan mengandung bahan organik tinggi dengan pH sedikit asam. Tingkat keasaman tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman krisan pada pH 5,5 – 6,5.

Tanaman krisan dapat ditanam langsung pada tanah yang dibuat dalam bentuk bedengan-bendengan. Kondisi ini juga dapat dicapai dengan memodifikasi media tanam di pot. Untuk pertumbuhan tanaman krisan yang optimum di pot atau polybag dibutuhkan media tanam yang ideal terdiri atas bahan organik dan anorganik, memiliki drainase yang baik,serta tidak mengandung hama dan penyakit.

Dalam skala penelitian menunjukkan bahwa media tanam campuran tanah dan bahan organik daun bambu (1:1) berpengaruh baik terhadap pertumbuhan tanaman krisan. Media tanam berupa campuran humus dengan pupuk kandang (1:2) berpengaruh baik terhadap diameter bunga krisan. media tanam dapat berupa campuran tanah, pasir, humus dan pupuk kandang (1:1:1:1). Alternatif lain media tanam krisan terdiri atas campuran gambut, cocopeat dan arang sekam (4:4:1), serta variasi atau komposisi lainnya sesuai dengan ketersediaan bahan di daerah setempat.

Cara Memperbanyak Bunga Krisan

Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk perbanyakan bunga krisan yaitu secara vegetatif dan generatif. Perbanyakan krisan secara generatif dilakukan menggunakan biji yang dihasilkan dari penyerbukan bunga. Hanya saja, perbanyakan melalui biji ini tidak disukai oleh para petani dan penghobi tanaman ini. Hal itu disebabkan, seringkali anakan yang dihasilkan memiliki bentuk dan warna bunga yang berbeda dengan indukannya. Tentu dari segi bisnis ini kurang menguntungkan, kecuali apabila niatnya memang untuk menghasilkan varietas baru melalui persilangan.

Perbanyakan krisan secara vegetatif dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu melalui anakan, stek dan kultur jaringan. Dari ketiga cara diatas, perbanyakan melalui kultur jaringan dianggap yang terbaik karena dapat menghasilkan anakan dalam jumlah banyak dan cepat. Selain itu, anakan yang dihasilkan pun biasanya lebih bebas dari hama dan penyakit. Hanya tingkat kesulitan yang dibutuhkan untuk memperbanyak bunga krisan dengan kultur jaringan cukup tinggi, sehingga sulit dilakukan oleh petani biasa.