Categories: Hewan

Belalang Ranting

Belalang ranting merupakan serangga yang tubuhnya dan kecil mirip seperti ranting. Bentuknya yang mirip ranting ini sebagai salah satu adaptasi yang dilakukannya agar mirip dengan lingkungan sekitarnya sehingga tidak dapat ditemukan oleh predator. Agar penyamarannya makin sempurna, warna tubuhnya dapat berubah menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan sekitarnya.

Klasifikasi Belalang Ranting

Belalang ranting bukanlah merupakan sebuah spesies hewan. Dalam taksonomi hewan sendiri, Ia merupakan famili Phasmatidae. Famili ini berisi serangga yang memiliki bentuk tubuh menyerupai tongkat. Famili ini kemudian diklasifikasikan lagi ke dalam sembilan sumfamili, yaitu :

  1. Cladomorphinae (ditemukan di Amerika Selatan, Madagaskar dan Indonesia)
  2. Clitumninae (banyak ditemukan di negara tropis dan subtropis Asia serta Amerika Selatan)
  3. Extatosomatinae (merupakan serangga endemik Australia)
  4. Lonchodinae
  5. Pachymorphinae
  6. Phasmatinae
  7. Platycraninae (banyak ditemukan di Australia, Amerika Selatan dan Asia)
  8. Tropidoderinae
  9. Xeroderinae

Saat ini diperkirakan terdapat sekitar 100 spesies anggota Phasmitidae. Walau begitu, jumlahnya kemungkinan akan terus bertambah dikarenakan masih jarangnya penelitian mengenai kelompok serangga ini. Selain itu, ia dapat berkembang biak dengan cara bertelur yang tanpa melalui fertilisasi. Cara berkembang biak seperti ini disebut dengan parteogenesis, hal ini dilakukannya sebagai salah satu adaptasi karena minimnya jumlah serangga ini di alam sehingga ia tidak perlu lagi untuk mencari pasangannya supaya bisa berkembang biak.

Habitat Belalang Ranting

Di Indonesia, serangga ini banyak ditemukan di hutan pulau Kalimantan. Jumlah populasinya tidak terlalu banyak dan sudah jarang ditemukan di habitat alaminya. Selain di Indonesia, ia dapat ditemukan secara alami di derah beriklim tropis dan subtropis lainnya.

Merupakan Serangga Terpanjang di Dunia

Belalang ranting memiliki tubuh yang sangat panjang. Bahkan, saat ini ia merupakan jenis belalang yang saat ini memang rekor sebagai serangga terpanjang didunia. Serangga tersebut merupakan spesies Phobaeticus chani yang ditemukan di kawasan hutan Guangxi Zhuang, Cina pada tahun 2014 memiliki panjang 62.4 cm. Ia memecahkan rekor sebelumnya yang juga dipegang oleh spesies Phobaeticus Chani yang ditemukan di Sabah, Kalimantan pada tahun 2008 yang panjangnya mencapai 56.6 cm.

Related Post

Di Indonesia sendiri, penelitian tentang serangga ini masih sangat jarang dilakukan. Banyak sekali spesimen yang ada di hutan kalimantan yang belum teridentifikasi. LIPI tidak memiliki koleksi belalang spesies Phobaeticus tetapi dari genus lain yaitu Cyphocrania yang panjangnya hanya sekitar 30 cm.

Molting

Sama seperti sebagian besar anggota serangga lainnya, belalang ranting melakukan molting (pergantian kulit). Dari setiap kali berganti kulit, ia secara bertahap akan mengubah penampilannya yang semakin terlihat dewasa.

Selama proses molting ini, ia menjadi sangat sensitif. Ia harus menarik seluruh tubuh, kaki dan antenanya melalui lubang kecil di eksoskleton lama mereka yang terbuka. Momen ini merupakan saat yang membahayakan baginya, terkadang salah satu kakinya nyangkut sehingga mengakibatkan putusnya kaki tersebut. Terkadang malah justru tubuhnya yang nyangkut sehingga dapat berakibat kematian.

Cara Berkembang Biak Belalang Ranting

Selain proses pergantian kulit (molting) yang dilakukannya, cara berkembang biak belalang ranting juga tergolong unik. Selain dapat melakukan bereproduksi secara seksual dan kemudian mengeluarkan telur. Serangga ini juga dapat melakukan perkembangbiakan tanpa proses perkawinan terlebih dahulu.

Serangga betina dewasa yang tidak menemukan pejantan biasanya tetap akan bertelur dan telur yang dikeluarkannya tersebut fertil dan dapat menjadi sebuah individu baru. Reproduksi tanpa melalui proses perkawinan ini disebut dengan nama partenogenesis. Anakan yang dihasilkan dari proses partenogenesis ini tidak memiliki perbedaan baik secara genetik ataupun fenotip dengan anakan yang dihasilkan secara seksual.

Partenogenesis dilakukan serangga ini sebagai bentuk adaptasi karena sulitnya serangga betina dewasa bertemu dengan pejantan. Dari seribu individu belalang stik ternyata 999 diantaranya adalah serangga betina. Belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan sangat sedikitnya populasi pejantan dari belalang ranting tersebut.