Pembangkit Listrik Tenaga Sampah

Salah satu upaya pemanfaatan sampah adalah dengan menjadikannya bahan bakar yang kemudian digunakan untuk menghasilkan listrik. Pemerintahan Indonesia sejak tahun 2019 telah mulai mengoperasikan beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Ditargetkan pada tahun 2022 akan ada 12 Pembangkit Listrik Tenaga Sampah yang bakal beroperasi, dan dari ke 12 PLTSa itu diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 234 Mega Watt Listrik. Selain berfungsi untuk menghasilkan listrik, PLTSa ini memiliki fungsi lain, yaitu untuk mendegradasi sampah yang dihasilkan masyarakat Indonesia. Diperkirakan jika 12 PLTSa telah mulai beroperasi akan ada sebanyak 16 ribu ton sampah per hari yang mampu didegradasi.

Cara Kerja Pembangkit Listrik Tenaga Sampah

Ada dua sistem kerja Pembangkit Listrik Tenaga Sampah, yang pertama adalah dengan membuat sampah didegradasi oleh mikrobia melalui proses fermentasi, sehingga menghasilkan gas metana. Gas Metana inilah yang kemudian dijadikan sebagai bahan bakar PLTSa.

Cara Kedua adalah dengan memasukkan sampah kedalam sebuah tungku pembangkaran, kemudian sampah dibakar sehingga menhasilkan panas yang kemudian diubah menjadi tenaga listrik. Cara pertama lebih efisien dalam penggunaan limbah sampah, serta energi listrik yang dihasilkan lebih besar. Tetapi terkadang cara kedua juga baik untuk digunakan, karena jumlah sampah yang berhasil dihancurkan akan lebih banyak jumlahnya.

Merubah Sampah Menjadi Metana Kemudian Listrik

Teknologi PLTSa yang merubah sampah terlebih dahulu menjadi gas metana kemudian baru dijadikan listrik dikembangkan di Jepang pada tahun 2002. Sampah yang dapat diolah dengan cara ini adalah sampah organik yang berasal dari dapur, kotoran manusia dan kotoran hewan. Sampah-sampah yang telah disortir itu dimasukkan ke dalam suatu tempat kedap udara kemudian diberi starter mikrobia untuk mendegradasi sampah tersebut.

Mikrobia kemudian akan mulai mendegradasi sampah yang ada disitu sehingga kemudian mengeluarkan produk sampingan berupa 50% gas metana dan 50% gas Karbon Dioksida. Gas yang terbentuk ini kemudian dialirkan ke dalam sebuah tabung pemurnian untuk memisahkan gas metana dengan karbondioksida. Setelah dimurnikan, gas metana akan dialirkan ke generator sehingga dapat dijadikan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan panas. Panas yang dihasilkan ini kemudian digunakan untuk memutar turbin, untuk mengkonversi energi panas menjadi energi listrik.

Dengan menggunakan teknik ini, selain menghasilkan energi listrik dan mengurangi sampah organik yang ada, terdapat pula sebuah produk sampingan yang tidak bisa diabaikan berupa kompos. Sisa sampah yang telah difermentasi oleh mikrobia merupakan pupuk kompos dengan kadar N yang tinggi sehingga sangat baik untuk digunakan sebagai pupuk tanaman.

Membakar Sampah Untuk Menghasilkan Listrik

Cara kerja kedua di dalam Pembangkit Listrik Tenaga Sampah adalah dengan membakar sampah yang ada dan kemudian energi panas yang dihasilkan dikonversi menjadi listrik. Pertama-tama sampah disortir sesuai dengan kriteria sampah yang dabat diproses di PLTSa. Setelah itu sampah dikumpulkan dan disimpan didalam sebuah bunker dengan teknologi RDF (Refused Derived Fuel). Penyimpanan ini bertujuan untuk mengurangi kadar air sehingga mempunyai nilai kalor yang lebih tinggi.

Proses pembakaran sampah didalam tungku PlTSa dilakukan dengan cara membakar sampah di dalam suhu 850-900 C. Panas yang dihasilkan dalam proses pembakaran ini akan disalurkan untuk memanasi Boiler, sehingga air yang ada di dalam bolier menjadi uap. Uap air ini akan digunakan untuk membuat turbin listrik berputar sehingga akan menghasilkan tenaga listrik. Dengan proses pengolahan sampah seperti ini, dibutuhkan 700 ton sampah dalam sehari untuk dapat diubah menjadi 7 Megawatt Listrik.

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di Indonesia

Saat ini telah beroperasi 4 PLTSa di seluruh Indonesia. Di targetkan pada tahun 2022 terdapat 12 PLTSa yang akan beroperasi di seluruh Indonesia. Ke 4 Pembangkit Listrik Tenaga Sampah yang telah beropetasi di Indonesia adalah sebagai berikut :

PLTSa jakarta

PLTSa yang berada di ibukota negara Republik Indonesia ni mampu mengkonversi 2.200 ton sampah setiap harinya untuk dijadikan listrik sebesar 35 Mega Watt. Pembangkit Listrik ini dikembangkan oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro) dan sebuah perusahaan dari Finlandia. Pembuatan PLTSa ini menghabiskan dana sekitar 345,8 juta dollar AS.

PLTSa Bekasi

PLTSa Bekasi berada di daerah bantar gebang dan mampu mengolah sampah sebesar 100 ton per hari untuk menghasilkan 700 Kilo Watt. Pengembangan PLTSa ini dilakukan oleh PT Nusa Wijaya Abadi yang menghabiskan dana sekitar 120 juta dollar AS. PLTSa ini akan terus dikembangkan dan targetnya dapat digunakan untuk menghasilkan listrik hingga 9 Mega Watt.

PLTSa Putri Cempo

PLTSa ini berada di kecamatan Jebres, Kota Surakarta. Pembangunannya dilakukan sejak 2018 dan mulai beroperasi pada tahun 2020 ini. Dalam sehari PLTSa ini mampu mengolah 450 ton sampah yang dapat dikonversikan kedalam listrik sebesar 10 Mega Watt. PLTSa ini dibangun oleh PT Solo Citra Metro Plasa Power (SCMP) dengan nilai investasi sebesar 40 juta dollar AS.

PLTSa Surabaya

Pembangkit listrik ini telah dibangun sejak tahun 2013 dan pada tahun 2020 ini sudah 90% selesai. Saat ini PLTSa ini telah mulai beroperasi walaupun listrik yang dihasilkannya belum maksimum. PLTsa ini terletak di Kecamatan Benowo dan memiliki luas sebesar 37,4 hektar. Diperkirakan PLTSa ini mampu menghasilkan 10 Mega Watt listrik. Pembangunan PLTSa ini menghabiskan biaya sekitar 50 juta dollar AS.