Ular Laut Perut Kuning

ular laut perut kuningUlar laut perut kuning merupakan salah satu jenis hewan paling mematikan di dunia, dikarenakan bisa yang dimilikinya. Bagaimana tidak, bisa ular ini memiliki tingkat toksisitas 30 kali lipat lebih kuat dibandingkan dengan bisa yang dimiliki ular kobra. Manusia yang tergigit ular ini hampir bisa dipastikan sulit tertolong, apalagi lokasi gigitan biasanya terjadi di laut yang jauh dari rumah sakit.

Untungnya ular laut perut kuning sangat jarang menyerang manusia, kecuali bila diganggu terlebih dahulu. Insiden serangan ular yang bernama latin Hydrophis platurus ini terhadap manusia sangatlah rendah. Akan tetapi setiap serangan yang dilakukannya, hampir semuanya berujung terhadap kematian. Bagi anda yang suka menyelam di lautan maka anda perlu mewaspadai kehadiran ular ini, jauhilah ia jika kalian melihatnya.

Klasifikasi

Jenis ular laut ini pertama kali teridentifikasi pada tahun 1766 oleh seorang ahli taksonomi bernama Carolus Linnaeus. Pada awalnya ia diberi nama ilmiah Anguis platura, tetapi seiring perkembangan zaman pemberian nama tersebut dianggap kurang cocok. Terjadi banyak sekali perubahan nama yang terjadi pada spesies ini, misalnya saja Gray di tahun 1842 menamainya sebagai Pelamis ornata, Dumeril menamainya sebagai Pelamis bicolor dan Fischer di tahun 1855 menamainya dengan Hydrophis bicolor.

Di dalam perkembangan terbaru taksonomi hewan terakhir, Sanders di tahun 2012 menamai ular laut perut kuning ini dengan sebutan Hydrophis platurus. Penamaan inilah yang dipakai hingga sekarang dan diakui oleh komunitas biologi internasional untuk ular laut ini. Klasifikasi lengkap ular laut perut kuning menurut Sanders (2012) adalah sebagai berikut :

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Reptilia
Ordo : Squamata
Famili : Elapidae
Genus : Hydrophis
Spesies : Hydrophis platurus

Ciri – Ciri Ular Laut Perut Kuning

Ciri paling mencolok pada ular laut perut kuning adalah terdapat dua warna yang khas pada tubuhnya, yaitu warna kuning pada bagian bawah tubuhnya dan warna coklat gelap pada bagian atas tubuhnya. Adanya dua warna yang kontras dan khas ini, membuat jenis ular ini mudah dibedakan dari spesies ular lain yang ada di lautan.

Bagian sisik ventral yang dimiliki ular ini mengalami pengecilan sebagai salah satu bentuk adaptasi terhadap lingkungan air laut asin. Adaptasi lain yang dilakukan ular ini adalah mengkompresi tubuhnya secara lateral dan adanya ekor pipih yang digunakannya untuk berenang. Pada bagian hidungnya terdapat katup (palatine seal) untuk mencegah masuknya air laut ke dalam tubuhnya.

Ukuran tubuh ular ini hanya sekitar 200 – 250 gram saja ketika dewasa, meskipun tubuhnya relatif kecil tetapi ia mampu berenang dengan cepat dan jauh. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan, ternyata ular beracun in mampu berenang hingga 32.000 kilometer dalam waktu 10 tahun masa hidupnya. Hal itu berarti, ular ini mampu berenang dari laut yang ada di sekitar Papua hingga lautan di sekitar kepulauan Hawai.

Perilaku

Dahulu kala banyak ahli biologi yang mengira spesies ini dapat meminum air laut dan bernapas di kedalaman air. Salah satu sebab munculnya hipotesis ini karena adanya kelenjar garam yang berada di rahang bawahnya. Para ahli biologi di masa lampau meyakini bahwa kelenjar tersebut memiliki fungsi untuk menyaring air asam dari laut menjadi air tawar. Seiring perkembangan zaman ternyata hipotesis tersebut terbukti salah, karena ternyata ia hanya meminum air tawar dan tidak dapat bernapas di air.

Untuk mendapatkan air tawar di lautan, ular perut kuning muncul ke permukaan dan meminum hasil presipitasi yang terbentuk di permukaan air laut. Presipitasi merupakan peristiwa perubahan uap air menjadi curah hujan, dimana curah hujan yang terbentuk ini tidak memiliki kandungan garam (air tawar). Adanya air tawar hasil presipitasi inilah yang menjadi sumber air bersih untuk kebutuhan hidup ular air laut perut kuning.

Ular ini mendapatkan makanan dengan baca berburu ikan yang ada di lautan, cara berburu yang dimiliki ular ini unik. Mereka berkumpul dalam jumlah ribuan dan mengapung di permukaan air, ikan yang melihat mengira bahwa itu merupakan tempat perlindungan. Begitu ikan tersebut mendekat, ular air laut ini akan menyergap dan menggigit menggunakan rahangnya.

Perkembangbiakan spesies ular ini dilakukan di perairan laut hangat. Calon indukan pejantan dan betina akan melakukan perkawinan disana dan kemudian si betina akan hamil selama 6 bulan. Ketika sudah waktunya melahirkan, indukan betina akan berenang ke perairan dangkal dan melahirkan disana. Tak jarang ketika akan melahirkan ini, si indukan betina terdampar di pinggir pantai terkena sapuan ombak.

Habitat Ular Laut Perut Kuning

Persebaran ular ini begitu luas dan hampir pernah ditemukan di perarairan laut yang ada di samudra. Mereka memanfaatkan ombak dan badai untuk bergerak mengarungi luasnya lautan. Mereka dapat ditemukan di lautan tropis indo-pasifik, lautan di sekitar California Selatan, Peru Utara hingga Kosta Rika. Ular ini juga merupakan satu-satunya jenis ular yang yang ada di perairan di sekitar kepulauan Hawaii.

Ular ini juga menjadi satu-satunya jenis ular yang pernah ditemukan di sekitar Samudra Atlantik, walaupun memang jumlahnya terbatas. Menurut ahli biologi alumni UGM, Adi Nugroho, persebaran ular laut perut kuning di Samudra Atlantik diduga berasal dari lautan Pasifik yang terbawa oleh aliran ombak. Ada juga laporan yang menemukan keberadaan ular ini di daerah Selandia Baru, menjadikannya bersama dengan Ular Erabu sebagai satu-satunya spesies ular yang ada di negara tersebut.

Habitat yang paling disukai oleh ular ini adalah yang memiliki banyak rumput laut yang mengambang di sekitarnya. Itu banyak ditemukan di daerah Samudra Hindia, sehingga wajar saja jika ia banyak ditemukan di bagian selatan perairan Indonesia. Beberapa kali ular ini terjadi insiden terdamparnya ular ini di pantai selatan Pulau Jawa yang untungnya tidak didapatkan data penyerangan yang dilakukan ular terdampar tersebut terhadap manusia.

Habitat yang paling disukai oleh ular ini adalah yang memiliki banyak rumput laut yang mengambang di sekitarnya. Itu banyak ditemukan di daerah Samudra Hindia, sehingga wajar saja jika ia banyak ditemukan di bagian selatan perairan Indonesia. Beberapa kali ular ini terjadi insiden terdamparnya ular ini di pantai selatan Pulau Jawa yang untungnya tidak didapatkan data penyerangan yang dilakukan ular terdampar tersebut terhadap manusia.