Jenis Ular Berbisa di Indonesia

Mayoritas dari kita tentunya takut ketika bertemu dengan jenis ular berbisa. Bisa yang dimiliki ular sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian bagi orang yang tergigitnya. Indonesia sebagai negara tropis ternyata memiliki berbagai jenis ular berbisa yang hidup di sekitar kita. Tentu kita perlu mewaspadai keberadaan mereka sehingga keamanan kita tetap terjaga.

Apa itu Ular ?

Ulang tergolong kepada kelas Reptilia yang bertubuh panjang dan tidak memiliki kaki. Ular merupakan hewan bersisik yang dapat berganti kulit karena sisik tersebut berbentuk atas lapisan tanduk dan pada masa-masa tertentu akan mengalami kematian. Oleh karena itu, dalam waktu sekitar 2 bulan sekali berbagai jenis ular akan mengalami pergantian kulit.

Berikut beberapa model sisik ular, diantaranya  :

  1. Susunan sisik-sisik besar yang simetris. Contohnya pada kepala ular pucuk (Ahaetulla nasuta).
  2. Sisik-sisik punggung (dorsal) pada ular welang (Bungarus fasciatus).
  3. Sisik-sisik berlunas pada ular rumput (Amphiesma stolatum) anggota suku Colobridae.
  4. Sisik-sisik sikloid pada ular kawat (Leptoypholps humilis).

Ular merupakan hewan berdarah dingin. Di berbagai tempat, terutama di alam tidak akan sulit menemukan ular karena ia merupakan salah satu reptil yang paling sukses dalam hal perkembangbiakannya di dunia.

Jenis Ular Berbisa di Indonesia

Ular adalah reptil yang memiliki bisa, namun ada juga yang tidak. Bisa pada ular adalah sejenis zat beracun yang dapat menyebabkan bahaya pada yang dialirinya dan disentuhnya.Ulat menggunakan bisanya untuk melumpukan buruannya, juga melindungi diri dari predator yang memangsanya. Bisa ular ada yang disimpan pada taring dan dikeluarkan dengan cara disuntikkan, tetapi ada pula yang dikeluarkannya dengan cara disemprotkan. Pada artikel ini Jenis.net akan mencoba membahas berbagai jenis ular berbisa di Indonesia.

Ular Bangkai Laut

Ular bangkai laut merupakan jenis ular yang berbisa dan tergolong ke dalam kategori bisa yang berbahaya. Bisa ular yang bernama latin Trimeresurus albolabris ini bersifat hemotoksin, yang dapat merusak sistem peredaran darah.

Ular ini berasal dari famili Viperidae dan genus Trimeresurus. Ia mempunya beberapa nama dalam bahasa inggris, yakni white-liped tree viper karena mempunyai warna bibir yang keputih-putihan dan bamboo pit-viper karena mempunyai kebiasaan berada di rumpun bambu.

Ular bangkai laut memiliki ukuran yang tidak terlalu besar, juga tidak terlampau kecil akan tetapi mempunyai tubuh yang cukup gemuk, namun tidak panjang dan dengan gerakan yang tidak begitu lincah. Ulat bangkai laut mempunyai ukuran kepala yang besar dan terlihat tiak seimbang dengan leher yang kecil. Sepasang taring yang besar dan panjang dengan dilipat di bagian rahang sangat membantu ular ini dalam memangsa buruannya. Ular jantan memiliki panjang sekitar 60 cm, sedangkan ular betina dapat mencapai 80 cm. Mempunyai ekor yang pendek meruncing, namun sangat kuat ketika melilitkan ke ranting pohon yang ditempatinya. Warna dominan jenis ular ini adalah hijau.

Ular Boa Pohon

Ular boa pohon dikenal di negara barat dengan nama emerald tree boasl. Ia memiliki nama latin Corallus caninus dan tergolong ke dalam famili Boidae yang merupakan kerabat dekat famili Pythonidae. Jenis ular berbisa ini berukuran besar, saat dewasa ia memiliki panjang sekitar 1,8 meter, tetapi spesies yang hidup di sungai Amazon Brazil memiliki panjang hingg 3 meter. Tubuhnya memiliki warna hijau pada bagian atasn dengan motif zig-zag yang berwarna putih. Pada bagian bawahnya biasanya berwarna kuning atau ada juga yang berwarna putih.

Ular boa pohon gemar memangsa burung yang berukuran tidak terlalu besar, kodok, kadal dan beberapa hewan mamalia lainnya. Walaupun ia memiliki bisa, tetapi saat berburu mangsa ia lebih mengandalkan kekuatan lilitannya untuk melumpuhkan mangsanya. Setelah makan, ia akan berpuasa dengan waktu yang cukup lama. Hal itu dikarenakan proses metabolisme ular ini bekerja dengan sangat lambat. Ia termasuk hewan nokturnal dan kebiasaanya pada siang hari adalah tidur dengan posisi melingkarkan tubuhnya da meletakkan kepalanya di tengah lingkaran.

Related Post

Ular Derik

Ular derik atau dalam bahasa inggris disebut rattle snake termasuk jenis ular berbisa tinggi yang ada di Indonesia. Penyebutannya dengan nama derik mengacu pada ekornya yang berbunyi ketika sedang dalam keadaan tegang. Susunan yang membuat ekor ular derik berbunyi adalah tersusun dari semacam lingkaran-lingkaran. Selain itu, fungsi ekor dapat dijadikan sebagai umpan bagi mangsanya. Sebagaimana sifat ular pada umumnya yang tidak akan menggigit jika tidak ada gangguan atau dikejutkan oleh manusia, begitu pula dengan ular derik.

Selain ekornya yang menjadi ciri khas, ada ciri khusus lain dari ular tersebut, yakni pada saat ia merasa terganggu dia akan merendahkan (jarak kepala hingga leher, sekitar 2/3 dari panjang tubuhnya) dan menggulungkan tubuhnya. Dengan kecepatan yang dimilikinya, ia akan langsung menyerang. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Adi Nugroho, kecepatan gerak ular derik lebih cepat daripada mata manusia.

Ular Jali

Ular yang memiliki nama latin Ptyas korros ini sangat banyak terdapat di Indonesia, khususnya di sawah-sawah. Di Indonesia ia dikenal dengan julukan ular tikus, penyebutan yang seperti itu dikarenakan kegemarannya memangsa tikus. Ular jari termasuk ke dalam jenis ular berbisa, tetapi dalam kategori bisa lemah sehingga tidak perlu ditakuti untuk didekati. Tergabung ke dalam suku Colubridae dari genus Ptyas, ular ini sangat membantu petani dalam memberantas hama tikus karena ia sangat hebat dalam memburu hewan pengerat tersebut.

Ular jali memiliki bentuk tubuh yang cukup besar, yakni panjangnya dapat mencapai hingga 2 meter. Pada bagian sisi atas tubuhnya berwarna cokelat muda kekuningan hingga abu-abu kehitaman. Bagian ekor berwarna kehitaman, sedangkan bagian depannya berwarna lebih terang dari ekornya. Tubuh bagian bawah memiliki warna kekuningan hingga kuning terang dengan mata yang berukuran besar.

Ular Kepala Dua

Ular ini termasuk ke daalam jenis ular primitif yang bisanya tidak mematikan. Pengambilan nama ular kepa dua merujuk pada bentuk fisik dan tingkah laku hewan ini. Apabila dalam keadaan terancam, ia akan megakkan ekornya seolah-olah itulah kepalanya, layaknya posisi ular kobra saat sedang marah, sedangkan kepalanya disembunyikan di bawah gulungan badannya. Ular ini memiliki nama latin Cylindrophis ruffus, berasal dari suku Chylindrophiidae dari genus Cylindrophis.

Ia memiliki bentuk tubuh yang silindris dengan ekor yang sangat pendek menyerupai kepalanya, yakni sama-sama tumpul. Hewan ini dapat tumbuh sepanjang 1 meter, tetapi di habitat aslinya masih sangat jarang yang melebihi 50 cm.

Pada tubuh bagian atas memiliki warna hitam yang dipadukan dengan belang-belang merah jingga pada bagian kanan dan kirinya. Pada saat umur dan ukuran tubuhnya bertambah, saat itu pula warna-warna cerah yang terdapat di seluruh tubuhnya akan memudar bahkan menghilang sehingga hanya warna hitam yang melekat.

Ular King Kobra

Ular king kobra di Indonesia memiliki sebutan ular lanang (Ophiophagus hannah) adalah ular berbisa terpanjang di dunia dengan panjang tubuh maksimal mencapai 6 meter dan diameternya dapat mencapai 10 cm. Ia termasuk ke dalam jenis ulat dengan bisa yang mematikan. Tergabung ke dalam suku Elapidae dari genus Ophiophagus, ia memiliki sifat yang sangat agresif dan selalu memangsa, bahkan dalam hal ini dapat memberikan ancaman serius bagi manusia karena bisanya yang kuat. Bisa ular king kobra merupakan gabungan antara neurotoksin dan hemotoksin yang dapat membunuh manusia dengan cepat. Hal itu dikarenakan dosis bisa yang disuntikan sangat besar. Akan tetapi, jika manusia tidak mengganggunya terlebih dahulu biasanya ia tidak akan menyerang. Ular king kobra memiliki ketahanan terhadap jenis racun dari ujar jenis apapun dan dapat membunuh semua jenis ular, itulah mengapa ia disebut King kobra.

Sesuai dengan namanya (Ophiophagus = pemangsa ular), king kobra gemar memakan jenis ular lainnya, bahkan ular yang memiliki ukuran lebih besar pun dapat ditelannya seperti ular sanca atau ular tikus. Hal ini terjadi karena ruas tulang belakang sebagian besar ular, salah satunya king kobra , sangat lentur  dan terdiri atas sekitar 400 ruas tulang belakang.

Selain itu, sambungan rahangnya kendur sehingga mulutnyadapat terbuka lebar ketika menelan mangsanya. Selain memangsa ular, hewan lain dengan ukuran yang besar pun tidak luput dari bisanya, salah satunya biawan. Setelah meamngsa hewan besar, ia dapat tetap hidup dalam beberapa bulan ke depan tanpa makan lagi. Hal ini dikarenakan proses metabolisme di dalam tubuhnya bekerja dengan lambat.

King kobra berburu dengan mengandalkan penglihatan dan penciumannya yang tajam. Ular king kobra memiliki beberapa keunggulan dalam berburu, diantaranya adalah mata yang tajam (dapat melihat mangsanya dari jarak 100 m), indra perasa getaran di tubuhnya yang melata di tanah dan naluri serta kcerdasannya sangat membantu untuk menemukan mangsa.

Categories: Hewan