Serangga Penghisap Darah

Jika kita membicarakan jenis serangga penghisap darah, pastilah yang pertama ada di pikiran kita adalah nyamuk. Serangga ini memang sering menghisap darah manusia baik di pagi, siang hingga malam hari. Selain menghisap darah, ternyata nyamuk juga merupakan salah satu vektor pembawa penyakit. Dua penyakit paling terkenal yang di bawa nyamuk diantaranya adalah malaria dan demam berdarah. Kedua penyakit ini cukup berbahaya dan seringkali menyebabkan kematian. Sehingga menjadi hal yang wajar jika manusia berbondong-bondong mencoba menekan populasi nyamuk yang ada di sekitar rumahnya.

Jenis Serangga Penghisap Darah

Selain ada nyamuk ada beberapa serangga yang termasuk ke dalam hematophagous (hewan yang menghisap darah). Kehadiran mereka selain memberikan rasa tidak nyaman akibat bekas gigitan yang ditinggalkannya, juga menjadi salah satu vektor pembawa penyakit. Ada berbagai jenis penyakit yang membutuhkan serangga penghisap darah ini sebagai agen pembawanya. Berikut ini akan saya jelaskan beberapa jenis serangga penghisap darah yang ada di sekitar kita.

1. Nyamuk

Sebenarnya hanya nyamuk betina saja yang menghisap darah manusia dan hewan, darah juga bukan digunakan sebagai makanannya melainkan sebagai asupan protein bagi telur-telur yang dibawanya. Sedangkan makanan nyamuk sendiri adalah nektar bunga sehingga sebenarnya nyamuk ini juga memiliki manfaat positif sebagai serangga yang membantu penyerbukan bunga.

Nyamuk yang merupakan serangga yang dikelompokkan ke dalam famili Culicidae ini, tidak semuanya menjadi vektor penyakit. Dari 35 genus dan 2700 spesies nyamuk kurang dari 10% nya saja yang membantu perebaran penyakit. Walau hanya 10% saja, kasus kematian akibat penyakit yang dibawa serangga ini jumlahnya sangat banyak. Kita sebut saja penyakit DBD yang disebarkan 2 spesies nyamuk dari genus Aedes ini, pada tahun 2018 saja menyebabkan kematian sebanyak 344 jiwa di Indonesia.

Padahal DBD bukan satu-satunya penyakit yang ditularkan nyamuk, masih ada malaria, demam kuning, virus zika, kaki gajah, chikungunya dan virus west nile yang semuanya merupakan penyakit berbahaya.

2. Triatoma

Di Indonesia, nama serangga yang masuk ke dalam famili Reduviidae ini memang tidak terlalu dikenal masyarakat. Tetapi jangan meremahkannya karena Triatoma dapat menularkan sebuah penyakit serius yang disebut penyakit Chagas. Selain sebagai vektor penyakit, air liur yang dikeluarkannya saat menghisap darah juga akan membuat reaksi alergi pada sebagian besar manusia, bahkan dapat menyebabkan reaksi anafilaksis yang parah.

Triatoma pernah menjadi momok yang menakutkan bagi pemerintah Cina pada tahun 2018. Bahkan pada saat itu pemerintah negara tersebut akan menghadiahi setiap 1 ekor serangga penghisap darah ini seharga 1 dollar untuk warga yang menangkapnya dalam keadaan hidup atau mati. Penyakit chagas yang disebarkan Triatoma merupakan sebuah penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan pembengkakan pada jantung dan usus besar. Penyakit ini paling banyak menimpa benua Amerika dengan kasus pertahunnya mencapai sekitar 8 juta kasus.

3. Lalat

Tidak semua jenis lalat yang menjadi penghisap darah, hanya genus Glossina, Stomoxys dan Phlebotomus saja yang membutuhkan darah. Glossina merupakan genus lalat yang disebut sebagai lalat Tse Tse, ia menjadi vektor penyakit tidur yang banyak menyebabkan kematian, khususnya di negara-negara Afrika. Lalat Stomoxys juga merupakan vektor penyakit tidur, tetapi serangga ini hanya menghisap darah pada hewan saja. Genus Phlebotomus merupakan vektor penyakit Leishmaniasis yang dapat menyebabkan kerusakan limpa dan hati sehingga berujung akan kematian. Dari ketiga penyakit diatas, hanya Leishmaniasis saja yang ditemukan terjadi di negara kita dan itupun dalam jumlah sangat sedikit.

4. Kutu Busuk

Kutu busuk merupakan serangga penghisap darah dari keluarga Cimicidae. Serangga ini banyak ditemukan pada kasur yang terbuat dari kapuk dan tidak terjaga kebersihannya. Kutu busuk tinggal dan bertelur di lipatan yang ada di kasur, saat ada manusia yang tidur di kasus tersebut serangga ini akan naek ke atas tubuhnya kemudian mengigit dan menghisap darah manusia tersebut. Selain berada di tempat tidur, serangga ini juga ditemukan di kursi dan sofa.

Kasus serangan kutu busuk di Indonesia telah sangat berkurang jika dibandingkan pada saat tahun 90an, hal itu dikarenakan masyarakat telah sadar tentang pentingnya menjaga kebersihan. Walau begitu sebenarnya serangga ini juga melakukan adaptasi untuk bisa bertahan hidup dengan lebih baik. Kutu busuk yang hidup saat ini relatif tahan terhadap pestisida sehingga saat disemprot obat nyamuk, serangga ini masih dapat bertahan hidup. Selain meningkatkan resistensi terhadap pestisida, ia juga bisa bertahan hidup selama hingga waktu satu tahun tanpa makanan.

5. Kutu Kucing

Serangga yang memiliki nama latin Ctenocephalides felis ini memang tidak menargetkan manusia sebagai korban utamanya. Meskipun demikian, ia dapat ditularkan dari kucing ke manusia. Serangga ini relatif tidak terlalu berbahaya karena tidak menjadi vektor pembawa penyakit. Biasanya bagian tubuh yang tergigit kutu kucing akan mengalami bentol sehingga terlihat berwarna kemerahan atau kehitaman.

Kutu kucing bukanlah serangga bersayap sehingga tidak dapat terbang. Hewan ini dapat bergerak jauh dengan mengandalkan kaki belakangnya untuk melompat, dalam sekali melompat ia dapat bergerak hingga mencapai 33 cm jauhnya. Tentu ini termasuk cukup jauh jika bandngkan dengan ukuran tubuhnya yang hanya 3 mm saja.

6. Kutu Anjing

Serangga yang memiliki nama latin Rhipicephalus sanguineus ini seringkali menjadi ektoparasit pada tubuh anjing. Pemberantasan serangga ini di anjing cukup merepotkan karena dalam satu induk betina mampu bertelur hingga sebanyak 5.000 butir dalam sekali bereproduksi. Telur ini akan diinjeksikan ke dalam kulit inangnya, sehingga meskipun diberi obat kutu, telur yang ada di dalam kulit in tidak ikut mati. Mengobati anjing yang terkena serangan serangga ini harus dilakukan dengan cara memberikan obat kutu secara rutin.

Serangga ini juga terkadang menyerang manusia, penularannya tentu saja biasanya ditularkan oleh anjing. Selain menjadi penghisap darah, kutu anjing juga menjadi vektor beberapa penyakit yang diantaranya adalah Lyme, Colorado tick fever, Rocky Mountain spotted fever dan Q fever. Sehingga bagi anda yang memelihara anjing haruslah berhati-hati agar jangan sampai terserang serangga ini, apalagi jika sampai tertular penyakit yang dibawanya.