Protozoa

Dahulu, sebelum ditemukannya virus, para ahli biologi mengira protozoa merupakan makhluk hidup terkecil. Hal tersebut dikarenakan, dibalik ukurannya yang sangat kecil (mikroskopis) ia telah memiliki ciri umum sebuah makhluk hidup.

Pendahuluan

Protozoa adalah anggota Protista yang memiliki ciri seperti hewan (Kingdom Animalia) tetapi tubuhnya hanya terdiri atas satu sel. Kelompok ini termasuk juga ke dalam Eukariot karena memiliki inti dan selubung (dinding) inti serta organ-organ renik (organel-organel) pada sitoplasma selnya. Ia memiliki beragam tipe simetri tubuh, alat-alat gerak dan memiliki kisaran yang luas dalam hal kerumitan struktur tubuhnya.

Protozoa dapat ditemukan dimana saja, baik yang hidup bebas maupun menjadi parasit pada organisme lain. Spesies yang yang hidup bebas banyak ditemukan di habitat laut, perairan tawar dan pada tanah lembab. Sedangkan pada daerah yang kering, apalagi yang terkena sinar matahari, ia tidak dapat bertahan hidup. Keanekaragaman protozoa di alam sangat tinggi. Diduga masih banyak spesies yang belum dapat dikenali secara pasti. Sampai saat ini sudah 50.000 spesies yang berhasil dideskripsikan.

Ciri Protozoa

Terdapat beberapa ciri protozoa yang dapat digunakan untuk membedakannya dengan Kingdom lainnya, diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Semua anggotanya berukuran mikroskopik, umumnya memiliki panjang sel berkisar antara 5 – 5000 mikron, kisaran rata-ratanya adalah antara 30 – 250 mikron.
  2. Protozoa tersusun atas sebuah sel tunggal yang unik dan mampu menjalani proses-proses kehidupan yang kompleks. Ia telah memiliki kemampuan dasar makhluk hidup, seperti makan, digesti, bergerak, berperilaku dan bereproduksi seperti layaknya hewan multiseluler.
  3. Protozoa memiliki rasio luas permukaan tubuh dengan volume tubuh yang besar sehingga memudahkannya menyerap nutrisi dari lingkungan di sekitarnya. Ada beberapa cara yang dilakukannya untuk mendapatkan nutrisi, yaitu :
    – Holozoik artinya cara makan yang langsung menelan mangsanya.
    – Holofitik artinya mendapatkan nutrisi melalui proses fotosintesis.
    – Parasitik artinya mengambil nutrisi dari organisme yang menjadi inangnya.
    – Saprozoik artinya memakan nutrisi yang terlarut di dalam air.
  4. Protozoa tidak memiliki alat kelamin (gonad), walaupun ia dapat melakukan reproduksi secara seksual. Reproduksi seksual dilakukan dengan cara membelah seluruh tubuhnya dan hasil pembelahan inilah yang menjadi gamet.

Klasifikasi

Dalam sistem klasifikasi yang terbaru, protozoa merupakan sebuah filum dari domain eukariota yang didalamnya terdapat beberapa kelas, yaitu :

  1. Kelas Rhizopoda
  2. Kelas Flagelata
  3. Kelas Ciliata
  4. Kelas Sporozoa

Morfologi Protozoa

Protozoa ialah hewan bersel satu yang dapat hidup secara mandiri atau berkelompok. Tiap protozoa merupakan satu sel yang sudah memiliki keasatuan yang lengkap, baik dalam susunan maupun dalam fungsinya. Struktur morfologi dari sel protozoa terdiri dari 2 bagian yaitu sitoplasma dan nukles atau inti sel.

Sitoplasma

Sitoplasma merupakan bagian sel yang mengelilingi inti sel, hampir semua aktifitas sel protozoa dilakukan di bagian ini. Sitoplasma protozoa terdiri dari 2 bagian yaitu :

a. Ektoplasma

Merupakan bagian luar dari protozoa yang terdiri dari hialin yang jernih dan homogen dengan struktur yang elastis. Fungsinya adalah sebagai berikut :

  1. Alat pergerakan
    Ektoplasma dapat berfungsi sebagai alat pergerakan dengan cara membuat Pseudopia pada kelas Rhizopoda, Silia pada kelas Ciliata, Flagel pada kelas Mastigophora (Flagellata) serta Membran bergelompang pada Mastigophora. Pseupodopia pada Rhizopoda membentuk pergerakan yang amoeboid, sedang silia pada Ciliata bergetar secara ritmis dan flagel yang dibantu oleh membran bergelombang pada Mastigophora dapat bergerak ke segala jurusan. Pada Sporozoa pergerakan hampir tidak kelihatan.
  2. Mengambil makanan
    Ektoplasma dapat berfungsi mengambil makanan dengan cara Protozoa bergerak dan mengambil makanan dengan pseudopodia, makanan cair diserap secara osmosis sedang makanan padat melalui sitoplasma (mulut yang rudimeter) lalu melalui sitofaring membentuk tabung ke dalam endoplasma. Dalam vakuola makanan diubah oleh enzim hingga dapat dicerna.
  3. Ekskresi
    Ektoplasma berfungsi untuk ekskresi yaitu ekskresi dilakukan dengan tekanan osmosis dan difusi. Pada beberapa spesies ekskresi dilakukan oleh vakuola kontraktil, tapi pada umumnya ekeskresi dilakukan melalui permukaan sel yaitu lubang khusus sitopage.
  4. Respirasi
    Ektoplasma berfungsi untuk respirasi secara langsung dengan mengambil oksigen dan mengeluarkan karbondioksida atau secara tidak langsung dengan mengambil oksigen yang dilepas oleh aktivitas enzim dari persenyawaan kompleks.
  5. Pertahanan diri
    Ektoplasma berperan dalam bertahan diri yaitu dengan melindungi bagian yang lebih dalam. Pada stadium trofozoit ektoplasma berbentuk selaput tipis yang tidak memberi bentuk tetap pada golongan Amoeba, tetapi memberi pada golonga Ciliata dan Mastigophora ektoplasma memberi bentuk tetap. Pada stadoum kista ektoplasma membentuk selaput kuat yang disebut dinding kista. Bentuk dinding kista ini diperlukan untuk kelangsungan hidup di luar hospes da sebagai pertahanan terhadap zat di saluran pencernaan.

b. Endoplasma

Endoplasma adalah bagian dalam dari morfologi protozoa yang tidak jernih tetapi berbutir-butir dan didalamnya terdapat inti. Di dalam endoplasma ini terdapat vakuola mkanan, vakuola cadangan, cakuola kontraktil, benda asing dan benda kromatoid. Pada Mastigophora biasanya terdapat kinetoplas yang terdiri dari benda para basal dan bleparoplas, yaitu tempat keluar flagel.

Nucleus atau Inti Sel

Nucleus atau inti sel adalah bagian terpenting yang dipelrukan untuk mempertahankan hidup dan untuk reproduksi serta mengatur metabolisme. Nukleus terdiri dari membran inti (selaput inti) yang meliputi serabut inti (retikulum) halus yang berisi cairan dan kariosom. Dalam ukleus yang berbentuk vesikel, butir-butir kromatin berkumpul membentuk butir tunggal. Dalam nukleus yang berbentuk granula butir-butir kromatin tersebar merata. Struktur inti sel pada protozoa terutama susunan kromatin dan kariosom berperan dalam membedakan spesies dar protozoa.

Reproduksi Protozoa

Protozoa merupakan sebuah makhluk hidup yang struktur tubuhnya masih sangat sederhana. Reproduksi protozoa dilakukan dengan dua cara yaitu secara aseksual (tanpa fertilisasi) dan juga secara seksual. Keduanya akan kita bahas secara mendetail pada artikel berikut ini.

Reproduksi Protozoa secara Aseksual

Pembelahan diri menjadi cara berkembang biak protozoa secara Aseksual yang paling terkenal. Tetapi sebenarnya pembelahan diri yang dilakukan protozoa ada banyak jenisnya, tidak hanya satu sel menjadi dua.

Beberapa reproduksi aseksual yang dilakukan oleh protozoa adalah sebagai berikut :

  1. Pembelahan biner (binary fission)
    Pembelahan biner terjadi apabila keadaan lingkungan baik dan cocok dengan siklus hidupnya. Protozoa akan mengadakan pembelahan diri yang dimulai dari kariosom, kemudian nukleus dan seterusnya hingga sitoplasma. Biasanya dari satu individu menjadi dua kemudian dua menjadi 4 dan seterusnya. Cara perkembangbiakan seperti ini hanya terjadi pada bentuk Trofozoit. Trofozoit ini merupakan salah satu stadium dalam daur hidup protozoa, dimana ia makan, bergerak, berkembang biak dan mempertahankan koloni di dalam tubuh inangnya. Cara perkembangbiakan satu sel menjadi dua ini disebut juga sebagai endodiogenik yaitu satu inti akan membelah menjadi dua, lalu diikuti oleh pembelahan struktur morfologi protozoa lainnya.
  2. Endopoligenik
    Selain melalui pembelahan biner, reproduksi aseksual yang dilakukan protozoa dapat pula dengan endopoligenik, yaitu inti sel membelah menjadi banyak lalu diikuti sitoplasma dan struktur tubuh lainnya. Dalam hal ini, satu sel akan berkembangbiak menjadi beberapa sel baru. Pembelahanan ini teratur dan sitoplasma juga mengikuti pembelahan ini secara teratur.
  3. Splitting
    Ada juga pembelahan inti menjadi banyak tetapi tidak teratur tiap belahan akan diikuti oleh sitoplasma dan menjadi beberapa sel baru yang bentuknya kurang teratur, maka pembelahan ini disebut splitting. Hal ini biasanya terjadi pada proses infeksi protozoa ke inangnya.
  4. Skizogomi
    Cara perkembangbiakan skizogomi terjadi dimana satu inti membelah menjadi banyak dan diikuti pembelahan sitoplasma, hingga terbentuklah merozoit yang banyak.
  5. Spora
    Cara perkembangbiakan menggunakan spora ini tidak terjadi pada semua protozoa tetapi hanya anggota dari kelas Sporozoa saja. Hal ini biasanya terjadi jika lingkungan tempatnya hidup berubah menjadi tidak menguntungkannya, ia kemudian akan menghasilkan spora yang memiliki dinding yang resisten yang berfungsi untuk bertahan hidup dari cekaman lingkungan yang tidak menguntungkan tersebut.

Reproduksi Seksual Protozoa

Pada perkembangbiakan secara seksual dilakukan dengan cara perkawinan antara mikrogamet dan makrogamet. Setelah terjadi perkawinan akan menghasilkan zigot, lalu terbentuk ookinet yang kemudian berubah menjadi ookista yang di dalamnya terbentuk sporozoit, proses ini disebut sporogoni.

Peran Protozoa

Dalam dunia budidaya hewan peran protozoa ini lebih banyak merugikannya dibandingkan yang menguntungkan karena banyak spesiesnya yang menjadi parasit hewan ternak sehingga protozoa menjadi salah satu momok bagi para pembudidaya.

Sebagai contoh saja dalam budidaya sapi, terdapat 4 protozoa yang cukup ditakuti para peternak yaitu Anaplasma, Babesia , Theileria dan Trypanosoma. Anaplasma merupakan protozoa yang menyerang bagian intraseluler sapi, menyebabkan hewan ternak ini menjadi tidak mau makan, demam dan terlihat lemah dan jika tidak ditangani dengan benar dapat menyebabkan gangguan pernafasan, kotoran mengeluarkan darah serta pembengkakan kelenjar.

Babesia dan Theileria merupakan protozoa yang menyerang sel darah merah hewan ternak sehingga menjadikan hewan tersebut terkena anemia. Sedangkan Trypanosoma merupakan parasit ekstraseluler yang cukup berbahaya karena dapat menyebabkan kematian terhadap sapi yang terinfeksi parasit ini.

Peran protozoa memang tidak selalu negatif, hal ini dikarenakan ada spesiesnya yang dapat dijadikan sebagai pakan alternatif ikan sehingga dapat menghemat biaya dalam budidaya ikan.