Peninggalan Kerajaan Kalingga

Peninggalan Kerajaan Kalingga
Candi angin yang merupakan salah satu sisa peninggalan Kerajaan Kalingga

Pada abad ke-5 hingga ke-7 Masehi, berdiri Kerajaan Kalingga atau Holing yang beribukota di Keling (Jepara). Hadirnya Kerajaan Kalingga diketahui dari peninggalan sejarah berupa 3 prasasti, 4 arca batu dan 2 candi. Catatan dari negeri Tiongkok juga menguatkan keberadaan dari kerajaan ini.

Kalingga merupakan kerajaan yang terletak di antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Jepara (sekarang). Kerajaan ini didirikan oleh Dapunta Syailendra di sekitar abad ke 5 Masehi. Masa kejayaan Kerajaan Kalingga terjadi semasa pemerintahan Ratu Shima.

Dalam perkembangannya, Ratu Shima memerintah dari tahun 675 hingga 695. Ia mendapatkan kekuasaan setelah suaminya Kartikeyasingha meninggal dunia. Dengan demikian, sebelum menjadi raja, Ratu Shima merupakan permaisuri dari Kartikeyasingha. Hanya saja, tidak diketahui secara pasti mengenai Kalingga ketika dipimpin oleh Kartikeyasingha tersebut karena kurangnya peningggalan sejarah mengenainya.

Peninggalan Kerajaan Kalingga

Ada 3 prasasti, 4 arca batu dan 1 candi yang menjadi peninggalan Kerajaan Kalingga. Saya akan sedikit mengulas secara singkat mengenai peninggalan Kerajaan Kalingga tersebut.

  1. Prasasti Upit
    Di dalam prasasti upit tertulis bahwa pengatur Kalingga di bawah pemerintahan Ratu Shima sampai daerah selatan, Jawa Tengah. Prasasti ini juga menyebutkan bahwa Upit merupakan daerah perdikan yang dianugerahkan Ratu Shima kepada penduduk disana.
  2. Prasasti Tukmas
    Prasasti ini ditemukan di lereng barat Gunung Merapi, tepatnya di daerah Dakawu, Lebak, Grabag, Magelang, Jawa Tengah. Prasasti Tukmas dituliskan dalam huruf Pallawa yang berbahasa Sansekerta. Di dalam peninggalan Kerajaan Kalingga ini, disebutkan tentang mata air yang bersih dan jernih.
    Sungai yang terbentuk dari mata air tersebut, disamakan dengan Sungai Gangga yang ada di India. Pada prasati Tukmas terdapat gambar-gambar, seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka, cakra dan bunga teratai. Keenam hal tersebut merupakan lambang keeratan hubungan manusia dengan dewa-dewa dalam agama Hindu.
  3. Prasasti Sojomerto
    Prasasti ini ditemukan di daerah Sojomerto, Reban, Batang, Jawa Tengah dan dituliskan dalam aksara Kawi yang berbahasa Melayu Kuno. Diduga prasasti Sojomekto ini dikeluarkan pada abad ke-7. sebelum pemerintahan ratu Shima.
    Prasasti ini bersifat keagamaan Siwais dan isinya memuat keluarga dari tokoh utamanya, yaitu Daputa Sailendra. Ia merupakan anak dari Santanu, raja Indraphrasta yang letaknya di Ujung timur Salakanagara (tepi sungai Cirebon). Di dalam prasasti ini disebutkan pula bahwa Syailendra memiliki istri bernama Sampula dan ibu bernama Bhadrawati.
  4. Candi Angin
    Candi angin sebenarnya merupakan reruntuhan bangunan yang berada di desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Belum diketahui secara pasti siapa yang mendirikan Candi ini, tetapi diduga merupakan peninggalan Kerajaan Kalingga. Penyebab argumentasi ini adalah karena candi memiliki umur yang lebih tua dari Borobudur. Dalam candi ini juga belum terdapat ornamen Hindu atau Budha sehingga diperkirakan dibuat sebelum kedua agama tersebut menyebar.
  5. Empat Arca Batu
    Peninggalan Kerajaan Kalingga berikutnya adalah empat arca batu yang berbentuk Batara Guru, Batara Narada, Togog dan Batara Wisnu. Keempat arca batu ini dibuat semasa pemerintahan Ratu Shima dan berada di puncak Rahtawu (Gunung Muria), dekat kecamatan Keling.
    Hingga sekarang, para ahli sejarah masih belum bisa memastikan bagaimana cara orang zaman dahulu kala mengangkut arca-arca tersebut ke puncak Rahtawu. Medan ke puncak tersebut begitu berat dan pada saat itu peralatan yang ditemukan manusia masih sangat sederhana.

Masa Kejayaan Kalingga

Kerajaan Kalingga mencapai kejayaan ketika diperintah oleh Ratu Shima yang berkuasa dari tahun 674-695 Masehi. Penyebab jayanya Kerajaan Kalingga saat itu dikarenakan Ratu Shima merupakan pemimpin yang arif dan menunaikan tugasnya dengan baik. Ekonomi dan Budaya mengalami kemajuan yang cukup pesat di masa pemerintahannya.

Pada masa pemerintahan Ratu Shima, Kalingga menjalin persahabatan yang erat dengan Kerajaan Sriwijaya dan Galuh. Persahabatan diantara ketiga kerajaan tersebut dikenal dengan sebutan Mitra Pasamayan. Sebenarnya semasa pemerintahan Ratu Shima, Kalingga pernah bermusuhan dengan Sriwijaya dan akan melakukan perang besar dengannya.

Penyebabnya adalah Raja Sriwijaya kala itu, Sri Jayanasa, berhasil menaklukkan Kerajaan Melayu. Penguasa Kerajaan Melayu masih berkerabat dengan Ratu Shima sehingga membuatnya marah. Untuk meredakan ketegangan yang terjadi, Sri Jayanasa berusaha melakukan diplomasi dengan Kalingga melalui Raja Galuh. Sri Jayanasa dan Terusbawa (Raja Galuh saat itu) merupakan sesama menantu dari Linggawarna.

Berkat upaya diplomasi tersebut, pada 22 Januari 685 masehi, terbentuklah perjanjian Mitra Pasamayan yang di setujui ketiga Kerajaan ini. Inti dari perjanjian ini adalah ketiga kerajaan tidak akan saling menyerang dan harus saling membantu ketika salah satunya di serang kerajaan lain.

Keruntuhan Kerajaan Kalingga

Seperti yang saya jelaskan di atas, Ratu Shima menyandang gelar sebagai penguasa Kerajaan Kalingga setelah kematian suaminya Kartikeyasingha. Ratu Shima memerintah Kalingga selama 21 tahun dan pemerintahannya di ahiri setelah ia meninggal di tahun 695 M dalam usia 84 tahun.

Pasca pemerintahan Ratu Shima, Kalingga mengalami perang saudara yang membuat kerajaannya terbagi menjadi 2. Kalingga bagian selatan diwariskan kepada Narayana, sementara Kalingga utara diwariskan kepada Parwati. Kelak Parwati yang merupakan permaisuri Jalantara (Raja Galuh), melahirkan Sannaha yang merupakan Ibu Sanjaya raja pertama Mataram.