Jenis Padi Unggul

Padi yang telah diolah menjadi beras merupakan makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Setiap tahunnya negara kita membutuhkan puluhan juta ton beras untuk dikonsumsi dan kebutuhan tersebut akan terus bertambah di setiap waktu. Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivas beras adalah dengan menggunakan jenis padi unggu. Padi unggul biasanya memiliki keunggulan pada tingkat produktivitas per hektarnya dan ada juga yang tahan dari serangan hama dan penyakit.

Penggunaan jenis padi unggul ini perlu diperhatikan betul oleh para petani Indonesia agar negara kita tidak memerlukan impor beras dan dapat swasembada pangan. Di tahun 2019 saja, kita memerlukan sekitar 29,6 juta ton beras dan untungnya produksi beras negara kita di 2019 mencapai 31,31 juta ton. Sehingga di tahun 2019 sebenarnya negara kita memiliki surplus sebanyak 1,53 juta ton beras.  

Walau masih surplus, sebenarnya kita tidak bisa berleha-leha dan harus meningkatkan kapasitas produksi beras kita karena setiap tahunya kebutuhan beras nasional selalu meningkat. Pada tahun 2018 misalnya, kebutuhan beras nasional sekitar 29 juta ton sehingga ada kenaikan sebesar 500 ribu ton beras. Padahal produksi beras kita di tahun 2019 ini sebenarnya turun daripada yang pernah tahun 2018 yang mencapai 33,94 juta ton.

Jenis Padi Unggul di Indonesia

Ada beberapa jenis padi unggul yang bisa dipilih oleh para petani Indonesia. Setiap varietas memiliki keunggulan tersendiri, ada yang tahan dari serangan hama dan penyakit, ada yang memiliki produktivitas tinggi dan ada pula yang memiliki keduanya. Berikut akan saya jelaskan beberapa jenis padi unggul yang ada di Indonesia :

Padi IF16

Varietas padi ini diterbitkan oleh Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia. IF16 merupakan hasil persilangan dari jenis padi unggul yang ada sebelumnya yaitu IF8. IF16 memiliki keunggulan di tingkat produktivitasya yang mencapai 13.5 ton per hektar dengan rata-rata 12 ton per hektar. Tingkat produktivitas tersebut jauh lebih tinggi dari rata-rata tingkat produktivitas padi di Jawa Barat yang hanya 5,8 ton per hektar. Selain itu, ia juga tahan beberapa jenis hama dan penyakit seperti wereng batang cokelat, pengerek batang padi dan blast.

Keunggulan lainnya adalah pada rasa nasi yang dihasilkannya, varietas IF16 ini menghasilkan nasi yang pulen sehingga cocok dengan seleras masyarakat Jawa. Waktu panennya pun relatif agak cepat yaitu membutuhkan waktu 90 hari dari waktu tanam untuk bisa dipanen. Salah satu daerah yang telah menggunakan Padi IF16 ini diantaranya adalah Indramayu dan para petani disana cukup puas dengan hasil panen yang dihasilkan oleh varietas padi ini.

Padi Unggul Varietas Mantab

Varietas ini diluncurkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan). Varietas ini memiliki keunggulan tahan terhadap wereng batang cokelat dan penyakit hawar daun bakteri. Keunggulan lainnya adalah beras yang dihasilkan ramping dan bening serta menghasilkan nasi yang pulen. Hal itu menjadikan varietas ini layak untuk ditanam oleh para petani.

Padi Unggul varietas mantab ini merupakan hasil persilangan dari varietas Bio 12 dengan RHS412-1CX-20X-02H. Ia memiliki tingkat produktivitas yang lebih rendah dari IF16 yaitu mencapai 9,1 ton per hektar dengan rata-rata produksi sekitar 7,2 ton per hektar. Waktu panen yang dibutuhkan pun lebih lama yaitu 116 hari setelah tanam. Selain itu, jenis padi ini tidak tahan dari serangan penyakit blast dan hama pengerek batang.

Inpari 48 Blas

Sesuai namanya, jenis padi unggul ini difokuskan supaya tahan terhadap serangan blas. Blas merupakan salah satu jenis penyakit jamur yang sering menyerang tanaman padi. Penyakit ini biasanya menyebar melalui air, khususnya air irigasi yang digunakan mengairi tanaman. Salah satu upaya pencegahan serangan penyakit ini ialah dengan menggunakan jenis padi yang memiliki ketahanan terhadapnya.

Selain tahan terhadap penyakit blas, inpari 48 blas juga memliki ketahanan terhadap serangan hama wereng cokelat dan penyakit hawar daun bakteri. Ia juga memiliki kulit gabah yang tipis dan menghasilkan nasi yang pulen. Varietas inpari 48 blas memiliki tingkat produktivitas yang lumayan yaitu mencapai 9.13 ton per hektar dengan rata-rata sebesar 7.64 ton per hektar. Tingkat produktivitasnya lebih tinggi dari varietas mantab tetapi lebih rendah dari IF16. Ia merupakan salah satu pilihan yang baik digunakan oleh petani yang lahan sawahnya menggunakan perairan irigasi.

Padi Ratun R5

Padi Ratun R5 memiliki sebuah keunggulan yang tidak dimiliki varietas padi lain. Hal itu dikarenakan dengan sekali tanam ia dapat dipanen sebanyak lima kali dalam setahun. Hal itu berbeda dengan varietas lain yang setiap sekali tanam hanya bisa dipanen sekali saja. Padi Ratun R5 juga diklaim lebih hemat dalam penggunaan pupuk hingga lima puluh persen. Hal itu diungkapkan Koos Kuntjahtjo selaku pengembang jenis padi unggul ini.

Dengan menggunakan varietas yang bisa dipanen sebanyak lima kali ini akan menghemat waktu para petani di Indonesia. Hal itu karenakan biasanya dalam budidaya padi, banyak waktu jeda antara setelah panen dan memulai menanam lagi. Biasanya varietas padi lain dalam setahun hanya bisa dipanen sebanyak dua kali. Pada awalnya Padi Ratun R5 ditanam seperti jenis padi lainnya. Kemudian saat akan dipanen, batang padi tidak dipotong habis sehingga akan tumbuh lagi yang kemudian dapat dipanen lagi 2 bulan berikutnya. Dalam setahun tingkat produktivitas varietas ini sekitar 24-34 ton per hektarnya.  Sayangnya varietas ini tidak diklaim memiliki ketahanan akan serangan hama dan penyakit tanaman sehingga kurang begitu saya rekomendasikan meskipun memiliki tingkat produktivitas tertinggi.

Itulah 4 jenis padi unggul yang bisa digunakan oleh para petani Indonesia dengan keunggulannya tersendiri. Dari keempat varietas tersebut, saya lebih menganjurkan menggunakan varietas IF16 karena memiliki ketahanan terhadap beberapa hama dan penyakit dan memiliki tingkat produktivitas yang tinggi pula.