Cephalopoda

CephalopodaCephalopoda merupakan salah satu kelas dalam filum Mollusca. Terdapat sekitar 650 spesies kelas Cephalopoda yang berhasil teridentifikasi, contoh hewan kelas Cephalopoda diantaranya gurita, cumi-cumi dan sotong.

Ciri-Ciri Cephalopoda

Ciri utama dari anggota Kelas Cephalopoda adalah memiliki kaki di kepala. Hal itu sesuai dengan arti dari kata Cephalopoda itu sendiri yang artinya bahwa kepala hewan ini terdapat pada kakinya. Selain dari kakinya, ciri-ciri Cephalopoda adalah sebagai berikut :

  1. Memiliki cangkang internal atau tanpa cangkang, kecuali Nautilus (genggeng) dan Argonata yang masih mempunyai cangkang eksternal. Cangkang ini terbuat dari zat kapur atau kitin.
  2. Sistem saraf berkembang baik dan terpusat di kepala membentuk semacam otak yang dilindungi oleh bentukan seperti tulang rawan.
  3. Kepala berukuran besar dan dilengkapi mata yang berkembang dengan baik dan kompleks. Selain mata, kepala juga dilengkapi dengan 6-8 lengan dan 2 tentakel di sekliling mulut.
  4. Mulut Cephalopoda dilengkai dua buah rahang yang terbuat dari kitin, berbentuk seperti catut dan dikelilingi oleh Epipodium yang termodifikasi menjadi sifon.
  5. Memiliki insang sebanyak dua atau empat, ginjal dua buah dan jantung tiga buah.
  6. Lengan atau tentakel pada umumnya dilengkapi dengan alat penghisap pada ujung-ujungnya.

Struktur Tubuh Cephalopoda

Berbeda dengan anggota Filum Mollusca lainnya, struktur tubuh Cephalopoda mayoritas tidak memiliki cangkang luar. Umumnya, cangkang sudah terdegenerasi berukuran kecil yang melekat di dalam mantelnya (cumi-cumi dan stong), gurita bahkan tidak mempunyai cangkang sama sekali. Satu-satunya anggota Cephalopoda yang masih memiliki cangkang luar dan berukuran besar adalah genggeng. Bahan cangkang dapat terbuat dari kittin (cumi-cumi) atau kapur (sotong dan genggeng).

Mantel menyelimuti sekeliling tubuh membentuk kerah yang agak longgar pada bagian leher. Sebuah sifon yang menyedot air lewat insang terletak dibawah mantel dan digunakan untuk mengeluarkan air untuk mendorong hewan bergerak cepat. Cumi-cumi, sotong dan gurita memiliki kantong berbentuk oval yang cukup besar. Tinta Cephalopoda berbentuk cairan kental yang mengandung sejenis pigmen melanin seperti pada pigmen rambut atau kulit. Warna tinta berbeda pada setiap spesies Cephalopoda, cumi-cumi memiliki tinta berwarna hitam kecokeltan, sotong memiliki tinta berwarna hitam kebiruan dan gurita memiliki tinta berwarna hitam.

Pada kulit mantelnya terdapat banyak sel kromatofora berdinding tipis dan elastis yang berisi pigmen berbagai warna tergantung pada spesiesnya. Warna-warna pigmen umumnya adalah hitam, cokelat, merah dan kuning.  Walau demikian, tidak ada satu spesies pun dari kelas ini yang memiliki seluruh pigmen warna tersebut,  Nautilus bahkan tidak memiliki kromatofora. Sel kromatofora umumnya banyak dijumpai pada tubuh bagian anterior (punggung). Adanya kromatofora tersebut memungkinkan anggota Cephalopoda dapat merubah warna tubuhnya sesuai dengan warna lingkungan di sekitarnya. Menurut para ahli pusat perubahan warna pada kebanyakan hewan Cephalopoda terletak di kedua matanya.

Selain memiliki kromatofora, kebanyakan anggota Cephalopoda, terutama yang berukuran kecil dan hidup di laut dalam juga mampu memancarkan pendar cahaya / sinar tanpa panas (luminenscene). Menurut para ahli terdapat tiga sumber sinar, yaitu bakteri, hasil sekresi dan fotofor. Salah satu contoh hewan Cephalopoda yang dapat menghasilkan sinar dengan eksresi adalah cumi-cumi dari spesies Heteroteuthis disphar. Sinar sebagai hasil sekresi berupa lendir yang berasal dari kelenjar dekat jantung tinta.

Contoh Hewan Cephalopoda

Beberapa subkelas dan ordo dari anggota kelas Cephalopoda beserta contoh spesiesnya adalah sebagai berikut :

1. Subkelas Nautiloidea
Cangkang eksternal terbuat dari kapur, bundar berbentuk spiral dan terbagi menjadi beberapa septum dengan sifunkel di tengahnya. Kepala dengan 60 – 90 tentakel tanpa batil hisap dan mata tanpa lensa. Nautiloidea tidak memiliki kantung tinta, sifon terdiri atas dua lobis, insang dan nefridia masing-masing berjumlah dua pasang (tetrabranchia). Anggota subkelas ini hidup di laut dalam, kebanyakan telah menjadi fosil dan hanya satu genus yang masih hidup, yaitu Nautilus.

2. Subkelas Ammonoidea
Anggota subkelas ini memiliki cangkang eksternal berongga sangat kompleks dan bergaris-garis sirkulas yang tidak teratur. Anggota subkelas ini sudah punah, hidup pada jaman Kreta dan Silur. Mereka dapat dkenali melalui fosilnya, contoh Cephalopoda yang masuk ke dalam kelompok ini adalah Ceratites dan Ammonites.

3. Subkelas Coleoidea
Anggota subkelas ini memiliki cangkang internal tereduksi atau tanpa cangkang. Tubuhnya silindris atau berbentuk bola dan dilengkapi sirip laterap. Kepala dengan 8-10 lengan berbatil isap dan mata mempuyai lensa. Insang dan nefridia masing-masing berjumlah sepasang (dibranchia), sifon berbentuk tubular dan mempunyai kantung tinta.

3.1. Ordo Belemnoidea
Cangkang internal dan berongga, anggotanya telah punah, hidup pada zaman kreta dan karbon. Contoh spesiesnya Belemnits dan Belemnoteuthis.

3.2. Ordo Teuthoidea
Cangkang pipih seperti pena, transparan dan terletak dalam rongga mantel. Tubuh panjang dan ramping dengan sirip lateral sempurna. Mata dengan atau tanpa korena. Kepala dengan 8 lengan dan 2 tentakel panjang. Anggota ordo ini hidup di laut dangkal sampai dalam. Contoh Cephalopoda yang masuk ke dalam ordo ini ialah Loligo, Lolliguncula dan Gonatus.

3.3. Ordo Sepioidea
Cangkang internal bersepta terbuat dari kapur, tereduksi atau tanpa cangkang. Tubuh anggota Sepioidea pendek melebar berbentuk kantung. Kepala dengan 8 lengan dan 2 tentakel panjang. Hidup di laut dangkal sampai dalam. Contoh spesiesnya Spirula, Sepia dan Sepiola.

3.4 Ordo Vampyromorpha
Kepala dengan 8 lengan yang disatukan oleh selaput renang (web), dua diantaranya terpilin. Tubuh anggota ordo ini kecil berbentuk bola lonjong. Hidup di laut dalam. Contoh spesiesnya ialah Vampyroteuthis.

3.5 Ordo Octopoda
Tanpa cangkang, tubuh berbentuk bola tanpa atau dengan sirip lateral. Kepala dengan 8 lengan. Contoh Cephalopoda yang masuk ke dalam ordo ini ialah Octopus, Argonauta dan Opisthoteuthis.

Perilaku

Cephalopoda adalah hewan akuatik, seluruhnya hidup di laut. Kelompok hewan ini (kecuali Nautilus) akan menyemburkan tinta atau berenang mundur dengan cepat bilamana merasa terganggu. Pada spesies yag hidup di laut dalam, tubuhnya dapat berpendar (luminescence), sedangkan yang hidup di perairan dangkal dapat merubah warna tubuhnya sesuai dengan warna lingkungan di sekitarnya. Untuk mempertahan diri dari predator, Nautilus akan memasukkan tubuhnya ke dalam cangkang dan menutup mulut cangkangnya dengan tudung (hood). Pada Octopus, selain menyemburkan tinta dan berenang mundur, ia akan merayap di lantai substrat dan bersembunyi dalam lubang. Hal itulah yang menyebabkan Octopus hidup di perairan dangkal di dalam lubang-lubang yang kadang di buatnya sendiri. Kebanyakan anggota Cephalopoda umumnya memiliki pola warna yang beragam, mereak dapat mengubah warna tubuhnya dengan kromatofora sesuai dengan warna substrat sehingga dapat mengelabuhi predatornya.

Pencernaan

Seluruh anggota Cephalopoda merupakan hewan karnivoa, umumnya bersifat nokturnal, aktif berburu mangsa yang terdiri atas crustacea, kerang, ikan-ikan kecil atau memakan maeri organik di dalam perairan. Cephalopoda umumnya menangkap mangsanya dengan menggunakan tentakelnya yang berbatil hisap. Octopus suka memangsa kepiting yang ditangkap dengan lengannya yang berselaput renang. Karapks kepiting dipecahkan dengan rahangnya yang kuat dan memakannya dalam lubang persembunyian. Cumi-cumi memakan berbagai jenis plankton dan ikan-ikan kecil. Spesies cumi-cumi tertentu, misalnya Cranchia sp bahkan dapat dengan mudah menangkap mangsanya yang berukuran jauh lebih besar dari tubuhnya.

Sistem saluran pencernaan Cephalopoda terdiri atas mulut dengan faring yang dilengkapi sepasang rahang yang kuat, lidah dilengkapi duri-duri kecil dari kitin, esofagus, lambung, usus, rektum dan anus. Di dalam lambung makanan dicerna dengan bantuan cairan yang berasal dari hati dan pankreas. Makanan yang setengah tercerna masuk ke dalam sekum dan dicerna kembali. Sari makanan kemudian diserap melalui dinding sekum dan usus. Sisa makanan akan dikeluarkan melalui anus yang bermuara di dalam rongga mantel.

Respirasi, Sirkulasi dan Ekskresi

Cephalopoda bernapas dengan insang yang menggantung dalam rongga mantel, insang berbentuk bipinnate dengan banyak lamel dengan permukaan yang luas sehingga memudahkan pertukaran oksigen. Oksigen akan dibawa darah melalui pembuluh darah afferent yang banyak terdapat pada insang ke jantung untuk diedarkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah efferent.

Cephalopoda memiliki jantung beruang tiga, dua ruang digunakan untuk memompa darah kotor yang masuk melalui insang dan satu ruang digunakan untuk memompa darah bersih ke seluruh tubuh. Sistem pembuluh darah telah berkembang dan terbagi menjadi pembuluh darah vena, arteri dan pembuluh kapiler. Darah pada hewan Cephalopoda mengandung haemocyanin dan ambosit. Darah akan berwarna kebiruan bila mengandung banyak oksigen dan tanpa warna bila tanpa oksigen. Sistem eksresi terdiri dari ginjal atau kantung ginjal yang teragi menjadi tiga ruang.

Reproduksi Cephalopoda

Cephalopoda memiliki kelamin yang terpisah (diesis) dan pembuatan terjadi secara internal. Salah satu atau beberapa lengan pada hewan jantan berubah menjadi hectocotylus atau spandix. Alat ini berfungsi sebagai alat kopulasi karena ujung hectocotylus atau spandix memiliki bentukan seperti kikir yang berguna untuk menyalurkan sperma ke alat kelamin betina pada waktu kopulasi.

Pejantan umumnya berukuran lebih kecil dari betina. Telur akan dikeluarkan dari ovarium berbentuk bulatan yang diliputi membran liat, panjang dan berlubang pada ujung-ujungnya (chorion). Pada membran terdapat lubang kecil yang memungkinkan sel sperma jantan masuk membuahi telur.

Telur cumi-cumi atau sotong yang telah dibuahi diletakkan di dasar perairan yang berbatu atau alga secara berkelompok. Telur gurita diletakkan di dalam lubang dan selalu dijaga oleh induk betina, sperma jantannya dibungkus dalam suatu kantung yang disebut spermatofor. Argonauta betina membuat cangkang tipis untuk meletakkan telur-telurnya. Betina berenang berikut dengan cangkangnya dan tentakelnya digunakan sebagai dayung. Argonauta akan mati setelah telur-telurnya menetas. Telur menetas tanpa melalui stadium larva, individu yang ke luar bersifat plantonik dan dapat langsung berenang serta mencari makan sendiri.

Musim bereproduksi cumi-cumi sangat bervariasi bergantung spesies dan habitatnya. Cumi-cumi umumnya bereproduksi sekali dan mati setelah melakukan kopulasi. Berbeda dengan cumi-cumi, sotong dan gurita dapat berkembang biak beberapa kali selama hidupnya.