Categories: Hewan

Bunglon Surai

Bunglon surai atau dalam nama latin disebut Bronchocela jubata merupakan salah satu spesies kadal yang berasal dari famili Agamidae. Ia merupakan salah satu jenis bunglon yang menjadi hewan asli Nusantara. Ia tersebar di berbagai pulau besar yang ada di Indonesia, seperti Sumatera, jawa, kalimantan, Sulawesi dan Bali. Selain di Indonesia, ia juga dapat dijumpai di Filipina dalam jumlah yang sangat terbatas. Seperti spesies bunglon lainnya, reptil ini bisa mengubah warna kulitnya walaupun perubahan warnanya tidak mencolok.

Saat ini populasi spesies ini di alam sudah sangat berkurang drastis. Padahal di tahun 2000an, bunglon surai masih kerap ditemukan di pekarangan rumah dan kebun milik warga. Penyebab utamanya adalah karena kedatang spesies invasif yaitu bunglon taman. Spesies reptil invasif ini memiliki ukuran tubuh yang lebih besar serta sifat yang lebih agresif. Akibatnya bunglon surai menjadi kesulitan untuk mempertahankan habitat dan mencari makanan. Hal itulah yang menyebabkan saat ini IUCN memasukkan bunglon surai sebagai salah satu hewan yang memiliki resiko untuk punah.

Morfologi

Secara morfologi, tubuh bunglon surai berukuran sedang dengan panjang tubuh sekitar 55 cm. 4/5 dari panjang tubuhnya adalah panjang ekornya yang menjuntai. Ia memiliki gerigi di bagian tengkuk dan punggungnya, bentuk geriginya menyerupai surai sehingga dari situlah asal nama hewan reptil ini. Gerigi yang dimilikinya terdiri dari banyak sisik yang berbentuk pipih panjang dan meruncing, akan tetapi gerigi ini relatif lunak sehingga mirip seperti kulit.

Reptil ini memiliki kepala dengan sisik-sisik bersudut yang menonjol. Terdapat kantung lebar di bagian dagunya yang bertulang lunak. Pelupuk di sekeliling matanya cukup lebar, lentur dan tersusun atas sisik yang ada bintik halus di dalamnya. Mayoritas sisik yang dimiliki jenis bunglon ini keras, hanya bagian sisik jambulnya saja yang agak lunak mirip seperti kulit.

Bagian atas tubuhnya berwarna hijau muda hingga tua, yang akan berubah warna menjadi coklat kehitaman ketika merasa terancam. Di bagian bawah timpanumnya terdapat sebuah bercak cokelat kemerahan yang mirip seperti karat pada besi. Deretan bercak tersebut seringkali terhubung sehingga membentuk sebuah garis-garis. Bercak karat ini terdapat di bagian bahu dan sisi lateral tubuhnya, semakin kebelakang warna bercak semakin pudar.

Bagian bawah tubuh bunglon surai berwarna kekuningan sampai keputihan, khususnya pada bagian dagu, leher, perut dan sisi bawah kakinya. Sedangkan bagian telapak tangan dan kakinya berwarna coklat kekuningan. Ia memiliki ekor berwarna belang coklat dan putih kehijauan. Bagian ekornya ini jika dipegang akan terasa seperti bersegi-segi.

Related Post

Cara Berkembang Biak Bunglon Surai

Seperti cara berkembang biak bunglon lainnya, bunglon surai melakukan perkembangbiakan dengan cara bertelur. Mereka menyukai bertelur di tanah yang gembur yang berpasir. Indukan betina akan menggali tanah menggunakan moncongnya. setelah kedalamannya dirasa pas, sang induk akan menaruh telurnya ke dalam lubang tersebut.

Telurnya berwarna putih dan berbentuk lonjong dengan ukuran sekitar 0,7 x 4 cm. Berbeda dengan telur ayam, kulit telur yang ada pada bunglon ini cukup kenyal seperti perkamen. Biasanya dalam sekali bertelur, induk bunglon hanya akan menghasilkan sekitar 1-3 telur saja. Sedikitnya jumlah telur yang dihasilkan ini menjadi salah satu sebab mengapa populasi reptil ini menjadi semakin langka.

Makanan Bunglon Surai

Makanan bunglon surai adalah serangga, ia biasanya memakan berbagai jenis kupu-kupu, lalat, capung, belalang, ngengat dan serangga lainnya. Untuk mengecoh musuhnya, bunglon ini kerap berdiam di batang pohon sehingga terlihat menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Begitu ada serangga mendekat maka ia akan menjulurkan lidahnya untuk menangkap mangsanya tersebut.

Harga Bunglon Surai

Spesies ini bukanlah salah satu hewan peliharaan favorit, sehingga memiliki harga jual yang tidak terlalu mahal. Berdasarkan survei yang saya lakukan ke pasar hewan di Jogjakarta, para pedagang disana biasanya menjual bunglon ini seharga 60 ribu rupiah per ekornya. Walaupun murah, stok binatang ini pun tidak selalu harga. Maklum saja, di habitat aslinya reptil ini memang sudah sangat langka. Apalagi tidak ada orang yang mau membudidayakannya sehingga menjadi wajar jika sangat sulit mendapatkannya.

Cara Adaptasi Bunglon

Bunglon surai melakukan adaptasi agar bisa terus bertahan hidup di kerasnya persaingan di lingkungan. Salah satu cara adaptasi bunglon adalah dengan mengubah warna kulitnya sehingga menyerupai lingkungan sekitarnya. Dengan miripnya warna tubuh yang dimilikinya, akan membuat predator dan mangsanya tidak dapat menemukannya. Kemampuan kamuflase yang dimiliki reptil ini disebut sebagai mimikri, yang artinya kemampuan suatu hewan untuk menyerupai sesuatu hal sehingga dapat menipu makhluk hidup lainnya.

Sayangnya kemampuan adaptasi yang dimiliki reptil ini belum mampu membuatnya keluar dari ancaman kepunahan. Sifat bunglon surai yang kalem dan ukuran tubuhnya yang tidak begitu besar menjadi penyebabnya. Ia hanya berdiam diri menunggu mangsanya datang, padahal seringkali ia diganggu oleh hewan lainnya. Misalnya saja, kerabat dekatnya bunglon taman yang suka mengusirnya ketika sedang berdiam diri di pohon. Akibatnya bunglon surai menjadi kesulitan untuk mendapatkan makanan, yang berujung dengan terus menurunnya jumlah populasi hewan ini.

Upaya pelestarian bunglon surai perlu segera di canangkan. Pemerintah perlu mempertimbangkan untuk membuat penangkaran hewan ini, agar bisa tetap eksis di masa mendatang. Walaupun memiliki kemampuan reproduksi yang tidak begitu baik, tetapi jika ditangkarkan secara benar, kita masih bisa untuk terus menjaga populasi reptil ini agar tetap lestari.