Bonsai Waru

Tanaman waru atau dalam bahasa latin disebut sebagai Hibiscus Tiliaceus, merupakan salah satu jenis tanaman yang sering dibuat bonsai. Biasanya dalam sebuah kontes, bonsai waru yang  menjadi juara kebanyakan berasal dari varietas tanaman yang berasal dari brazil atau bisa kita bilang sebagai waru impor.

Perbedaan antara waru lokal dan impor ini lebih terletak di ukuran daunnya,  tanaman yang berasal dari dalam negeri memiliki ukuran daun yang lebih besar. Walau begitu jangan anggaap remeh tanaman waru lokal, banyak pebonsai dalam negeri yang berhasil membuat bonsai waru lokal, khususnya yang berdaun merah memiliki kualitas yang sangat baik.

Pendahuluan

Tanaman waru mempunyai nama latin Hibiscus sp, ia merupakan salah satu anggota famili Malvaceae. Malvaceae merupakan famili tanaman perdu yang di dalamnya berisi tanaman penghasil serat tekstil dan minyak atsiri. Anggota famili ini biasanya memiliki daun dan bunga yang berukuran besar.

Dikarenakan memiliki daun dan bunga yang berukuran besar, sebenarnya Malvaceae kurang cocok untuk dijadikan bonsai. Tanaman yang baik untuk dijadikan bonsai biasanya adalah tanaman yang memiliki daun berukuran sedang atau kecil sehingga saat dibonsai akan menghasilkan tanaman yang proposional sehingga menghasilkan sebuah pohon mini yang memiliki bentuk seperti saat ia hidup di alam. Tampaknya, hal tersebut susah dilakukan untuk bonsai waru merah, mengingat ukuran daunnya akan tetap cukup besar sehingga kurang proposional dengan ranting dan batangnya.

Morfologi daunnya adalah berbentuk seperti jantung dengan tepian rata, diameter daunnya dapat mencapai 20 cm jika ditanam di lahan terbuka. Pertulangan daunnya menjari, pada tulang daunnya sering terdapat getah. Pada bagian atas daunnya berwarna merah sedangkan bawahnya berwarna abu – abu. Di habitat alaminya ia dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian 15 meter. Ia dapat tumbuh pada lahan gersang, walau begitu biasanya tingginya tidak dapat lebih tinggi dari 10 meter.

Tanaman ini memiliki bunga berwarna merah yang indah. Ukurannya sekitar 5 – 7,5 cm dengan mahkota berbentuk kipas. Para pecinta bonsai akan sangat bahagia apabila bonsai waru mereka mengeluarkan bunga. Walau begitu entah mengapa, saat dibonsai waru varietas lokal jarang sekali dapat mengeluarkan bunga walaupun telah diberi hormon untuk memacu pertumbuhan bunga. Hal tersebut berbeda dengan varietas impor yang kerap kali mengeluarkan bunga berukuran besar.

Bonsai Waru Lokal

Seperti yang telah saya membedakan antara waru lokal dan impor adalah dari ukuran daunnya, ukuran daun tanaman yang berasal dari indonesia lebih besar. Tanaman waru lokal ini sering dipandang sebelah mata, hal salah satunya karena populasinya yang banyak. Orang lebih tertarik dengan jenis pohon yang populasinya sedikit dan sulit didapatkan, sebagai contoh beringin.

Walau begitu ada saja orang yang berhasil membuat tanaman ini menjadi sebuah bonsai yang sangat indah. Salah satunya adalah Robert dari Jogjakarta. Lelaki kelahiran Bantul ini menyukai bonsai sejak masa sekolah menangah atas. Salah satu koleksinya adalah bonsai waru yang menonjolkan perakaran dan memiliki dedaunan yang lebat seperti bisa anda lihat di gambar di bawah ini.

Menurut Robert, walau jika dibandingkan beringin nama waru kurang tersohor tetapi dengan perawatan yang rutin dan cermat waru dapat menghasilkan sebuah tanaman mini yang memiliki nilai karya seni tinggi. Menurutnya, untuk membonsai waru memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan tanaman lain, beberapa penyebabnya diantaranya adalah ukuran daunnya yang besar, secara alami tanaman ini tumbuh dengan tidak lebat dan tunas yang jarang tumbuh berdekatan.

Oleh karena itu bonsai waru membutuhkan perawatan yang ekstra hati – hati. Dengan pemberian pupuk pupuk yang teratur, rajin memotong ranting dan perawatan rutin setiap hari, barulah dapat menghasilkan bonsai yang seperti ini, tambah Robert.

Selain bonsai yang menonjolkan perakarannya, Robert juga menunjukkan salah satu bonsai waru koleksinya. Menurutnya bonsai merupakan Hibiscus dari Taiwan, ia tidak merawatnya dari awal tetapi membelinya di salah satu pameran bonsai yang di adakan di Singapura. Perawatan harian dilakukannya secara teratur supaya bentuk dari bonsai bisa dipertahankan.

Selain robert sebenarnya masih banyak pecinta bonsai yang berkreasi dengan tanaman ini. Hasil karyanya banyak juga yang bisa diacungi jembol, contohnya adalah beberapa gambar bonsai waru yang akan saya sajikan dibawah ini :

Gambar diatas merupakan hasil karya salah seorang dari malang yang ia jual di salah satu grup di facebook pada tanggal 12 April 2020 kemarin. Ia menjualnya di harga 10 juta rupiah dan masih nego, menurutnya tanaman ini telah dipeliharanya selama 3 tahun.

Ada juga waru lokal gaya meliuk yang sedang dikerjakan oleh pak Joko dari Sleman. Menurutnya, bonsai ini masih setengah jadi dan masih membutuhkan banyak pekerjaan agar sesuai seperti yang ia inginkan. Untuk mempertahankan bentuk liukan, ia menggunakan besi yang ditopang oleh batu. Sepertinya bonsai ini memang masih membutuhkan waktu yang cukup lama agar batang utamanya kuat tanpa bantuan batu dan besi untuk menahan pohon yang meliuk ini.

Bonsai Waru Merah

Waru merah merupakan salah satu varietas dari tanaman waru lokal yang memiliki daun berwarna merah. Selain dari warna daunnya, tidak ada perbedaan lainnya antara kedua varietas waru lokal tersebut. Sayangnya, masih sangat jarang para pecinta bonsai yang mencoba tanaman ini. Hal tersebut dikarenakan kesulitan di dalam membentuk dan merawat tanaman ini. Ada 3 penyebab utama mengapa tanaman waru merah sangat sulit dijadikan bonsai, yang pertama adalah ukuran daunnya yang besar. Selain itu, pertumbuhan daunnya tidak dapat dibuat lebat walaupun rajin dipangkas. Penyebab yang terakhir adalah batangnya sulit dibikin ukuran besar sehingga kebanyakan para pebonsai hanya membuat tanaman ini menjadi bonsai sederhana saja.

Walau masih banyak kekurangannya, beberapa karya yang menggunakan tanaman waru merah ini tetap memiliki keindahan tersendiri. Seperti gambar di diatas, Seperti gambar di diatas, bonsai waru merah diatas memiliki lekukan yang sangat eksotis. Lekukan tersebut tentu tidak terjadi secara alami, tetapi sejak awal dilakukan pengawatan sehingga lekukan tanaman bonsai sesuai dengan imajinasi pemiliknya.

Hal itulah mengapa tidak direkomendasikan membuat bonsai dari bakalan yang berasal dari stek ataupun cangkok, biasanya bonsai yang dihasilkan tidak proposional sehingga menjadi kurang indah. Gunakan biji untuk mendapatkan hasil yang maksimal, dikarenakan sedari kecil anda bisa membentuk tanaman sesuai dengan keinginan anda.

Bonsai Waru Lokal Juara Kontes

Dalam kontes bonsai internasional belum pernah ada tanaman waru lokal yang menjuarai, wajar saja kebanyakan seniman bonsai indonesia yang ikut kontes taraf internasional menampilkan waru impor.

Sebenarnya, membuat bonsai waru lokal menjadi juara kontes internasional bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Saya pernah melihat sebuah bonsai waru lokal di kontes skala nasional yang bentuknya benar-benar terlihat mempesona saya. Penampilan bonsai yang saya maksud tersebut adalah sebagai berikut.

Seperti yang telah kita ketahui, bahwa kekurangan bonsai waru yang berasal dari varietas dalam negeri adalah ukuran daunnya yang lebih besar. Nah untuk mensiasati hal tersebut, ternyata bisa dilakukan dengan cara menggunduli daun yang ada bonsai pada saat akan mengikuti kontes. Sehingga akan terlihat tampilan seperti diatas, dengan menampilkan batang dan keindahan akarnya bonsai waru ini benar-benar mempesona. Sehingga menurut saya kualitas bonsai ini, tidak kalah dengan bonsa-bonsai yang menjadi juara kontes internasional. Bagaimana menurut anda?